Agama dan Kaitannya dengan Kesehatan Mental
Agama dan Kaitannya dengan Kesehatan Mental
Muhammad Arief Rahman
Masalah kesehatan mental bukanlah suatu perkara yang bisa dipandang sebelah mata. Bila tidak diantisipasi sejak dini, kemungkinan terburuknya dapat berujung pada tindakan seseorang menghilangkan nyawanya sendiri. Menurut Asosiasi Pencegahan Bunuh Diri Indonesia, secara resmi tercatat jumlah kasus bunuh diri pada tahun 2020 sebanyak 670 jiwa. Namun, diprediksi angka bunuh diri yang sebenarnya jauh lebih tinggi sebab banyak kasus yang tidak terlaporkan. Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang melakukan perbuatan tersebut pun beragam; di antaranya adalah faktor kepribadian yang tertutup, faktor sosial seperti teman dan keluarga yang bermasalah, dan faktor ekonomi seperti tidak mampu membayar hutang atau tidak bisa membiayai pengobatan.[1] Ketiga faktor tersebut dapat menyebabkan depresi berkepanjangan yang pada akhirnya berakibat bunuh diri.
Depresi merupakan salah satu penyakit mental yang rentan menghinggapi siapa saja. Hal ini dikarenakan pemicu depresi bisa datang dari hal-hal kecil sekalipun; kekerasan emosional, kekerasan fisik, bullying, merasa minder, dan lain sebagainya. Dampak yang paling sering ditemui dari depresi ini adalah perilaku menyakiti diri sendiri hingga akhirnya bunuh diri.[2] Berbagai masalah yang menumpuk disebabkan satu atau lebih faktor di atas kemudian menimbulkan keinginan untuk mengakhiri hidup. Padahal, Indonesia sebagai negara berketuhanan memiliki penduduk yang hampir semuanya menganut kepercayaan. Setiap agama yang dianut tersebut tentu tidak memiliki ajaran untuk mengakhiri hidup. Lantas, apakah agama mempunyai hubungan dengan kesehatan mental?
Hubungan Antara Manusia, Agama dan Kesehatan Mental
Hubungan antara kesehatan mental dengan agama sangatlah erat. Kesehatan mental mengacu pada kemampuan individu untuk beradaptasi dengan baik terhadap diri sendiri dan lingkungan sosial.[3] Sedangkan agama merupakan sebuah sistem yang mengatur aspek kepercayaan dan ibadah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, serta norma-norma yang berkaitan dengan interaksi antarsesama manusia maupun dengan lingkungannya.[4]
Bila dilihat benang merahnya, keterkaitan antara kesehatan jiwa dengan agama sebagai keyakinan terletak pada penerimaan individu terhadap rencana Tuhan. Sikap ini dapat menciptakan pandangan optimis yang menghasilkan perasaan positif, seperti kebahagiaan, kepuasan, keberhasilan, kasih sayang dan rasa aman. Oleh karena itu, dalam keadaan tersebut seseorang dapat merasakan ketenangan dan keseimbangan mental yang normal.[5] Hal ini penting bagi kebutuhan emosional manusia.
Sangat masuk akal jika ajaran agama mengharuskan pengikutnya untuk secara teratur menjalankan syariatnya. Sebagaimana alam semesta itu teratur karena taat pada hukum alam yang telah ditetapkan Tuhan, manusia juga perlu taat agar hidupnya tidak serampangan. Jika manusia tidak mau taat, maka akan timbul kerusakan-kerusakan. Dengan demikian, penting bagi manusia, khususnya seorang muslim, untuk menjalankan syariat agama sebaik-baiknya.
Dalam Islam, pelaksanaan ibadah memiliki pengaruh untuk membentuk kepribadian yang baik. Salah satunya adalah terbiasa tenang dalam menghadapi segala sesuatu yang mana merupakan takdir Tuhan. Beribadah akan memberikan perasaan bahwa hidup memiliki makna yang lebih dalam.[6] Oleh karena itu, seseorang yang rajin beribadah tidak akan mudah gelisah dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Semakin Ber-Islam, Semakin Tenang
Syarat memeluk Islam yang paling pertama adalah mengucapkan dan meyakini kalimat syahadat. Kalimat yang ditekankan tentu saja kalimat tauhid Lā ilāha illaLlāh (tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allāh). Mengikrarkan kalimat tauhid harus dilandasi dengan ilmu agar dapat memahami makna kalimat tersebut. Salah satu klasifikasi tauhid adalah tauhīd rubūbiyyah (selainnya adalah tauhīd ulūhiyyah dan tauhīd al-asmā’ wa al-shifāt).
Lafal Rabb memuat makna penciptaan, pemeliharaan, penjagaan, pengawasan, dan seterusnya. Dari kata Rabb terbentuk istilah rubūbiyyah yang maknanya adalah keyakinan yang kuat bahwa Allāh subhānahu wa ta’āla semata Rabb segala sesuatu. Dialah satu-satunya Pencipta, Dialah Yang Maha Mengatur alam semesta, Yang Maha Memberi Rezeki kepada seluruh makhluk, Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan mereka; mendatangkan manfaat, menolak bahaya, dan sebagainya. Ringkasnya, tauhid rubūbiyyah adalah mengesakan Allāh berkenaan dengan perbuatan-perbuatan-Nya.
Oleh karena itu, seharusnya kita tidak usah takut dan ragu menghadapi hidup. Sebab, betapapun kesulitan yang kita hadapi, hidup itu menurut apa yang ditentukan Allāh subhānahu wa ta’āla. Tidak kurang, tidak lebih. Tidak perlu khawatir bagaimana urusan kita akan berakhir, karena ada Allāh telah mengurusnya dengan seelok-eloknya. Hal yang harus kita lakukan adalah berusaha sebaik-baiknya. Jika kita sedang bersedih, ingatlah bahwa Allah berfirman dalam al-Qur’ān Surah al-Taubah ayat 40,
… لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ
“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allāh bersama kita.”
Ayat ini mengingatkan bahwa Allāh subhānahu wa ta’āla senantiasa ada bersama hamba-Nya dan senantiasa memberikan pertolongan. Hal ini dapat menjadi pelipur lara dan mengurangi kecemasan atau kesedihan yang melanda hati manusia.
Kesimpulan
Islam menyediakan kerangka nilai, tujuan hidup, dan makna yang dapat membantu umat Islam merasa terhubung dengan Allāh yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Keterhubungan ini dapat memberikan harapan, tujuan, dan motivasi hidup yang dapat mendukung kesehatan mental. Semakin kita mengenal dan mempelajari agama kita, semakin kita tenang ketika berhadapan dengan segala permasalahan duniawi. Karena kita mengimani dengan penuh keyakinan, bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah ketetapan Allāh subhānahu wa ta’āla, dan bahwa setiap ketetapan-Nya selalu berupa kebaikan lagi mengandung hikmah.
Referensi
Mulyani, Ayu Ariyana and Wahyu Eridiana. “Faktor-Faktor yang Melatarbelakangi Fenomena Bunuh Diri di Gunung Kidul.” Sosietas Vol. 8 No. 2. 2019.
Santoso, Meilanny Budiarti, Dessy Hasanah Siti Asiah, and Chenia Ilma Kirana. “Bunuh Diri dan Depresi dalam Perspektif Pekerjaan Sosial.” Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 4 No. 3. 2018.
Lazuardy, Alvin Qodri. “Agama: Definisi dan Konsekuensi.” Comparative Study of Religions. https://saa.unida.gontor.ac.id/agama-definisi-dan-konsekuensi/.
Hamid, Abdul. “Agama dan Kesehatan Mental dalam Perspektif Psikologi Agama.” Jurnal Kesehatan Tadulako Vol. 3 No. 1. 2017.
[1] Ayu Ariyana Mulyani and Wahyu Eridiana, “Faktor-Faktor Yang Melatarbelakangi Fenomena Bunuh Diri Di Gunungkidul,” Sosietas 8, no. 2 (2019): 512–513.
[2] Meilanny Budiarti Santoso, Dessy Hasanah Siti Asiah, and Chenia Ilma Kirana, “Bunuh Diri Dan Depresi Dalam Perspektif Pekerjaan Sosial,” Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat 4, no. 3 (2018), hal. 390.
[3] Ibid, hal. 127.
[4] Alvin Qodri Lazuardy, “Agama: Definisi Dan Konsekuensi,” Comparative Study of Religions, https://saa.unida.gontor.ac.id/agama-definisi-dan-konsekuensi/.
[5] Abdul Hamid, “Agama Dan Kesehatan Mental Dalam Perspektif Psikologi Agama,” Jurnal Kesehatan Tadulako 3, no. 1 (2017), hal. 8.
[6] Ibid.

Tinggalkan komentar