Perjuangan Sayyidah Maryam:Kisah Haru dan Heroik Melahirkan Nabi ‘Īsā ‘Alaihissalām
Perjuangan
Sayyidah Maryam:
Kisah Haru dan Heroik Melahirkan Nabi ‘Īsā ‘Alaihissalām
Oleh: Muhammad Fajar Adyatama, S.Pd.
Prolog
Baru-baru
ini, saudara kita umat Kristiani memperingati sekaligus merayakan hari
kelahiran sosok agung yang dalam agama Islam merupakan seorang utusan (rasūl)
Allāh, yakni Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām.
Nabi ‘Īsā merupakan salah satu dari 5 nabi dan rasul yang mendapat keistimewaan
dengan menyandang gelar Ulul ‘Azhmī (yakni para nabi
dan rasūl yang berhasil mencapai level ketabahan dan kesabaran paling tinggi;
mereka adalah Nabi Nūh, Nabi Mūsā, Nabi Ibrāhīm, Nabi ‘Īsā ‘alayhimussalām, dan Nabi Muhammad shallaLlāhu ‘alayhi wa sallam) karena keimanan dan ujian yang
mereka dapatkan.
Nabi
‘Īsā—sebagaimana terpotret sangat jelas (sharīh)
dalam al-Qur`ān—merupakan satu-satunya manusia yang lahir tanpa seorang ayah
(selain Nabi Ādam, bedanya Nabi Ādam lahir tanpa ayah karena memang beliau
adalah bapak/ayahnya umat manusia). Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām lahir dari rahim seorang wanita bernama Maryam bint
‘Imrān, seorang perempuan agung nan suci yang telah dipilih Allāh (sebagaimana
termaktub pada Q.S. Āli ‘Imrān: 22) dan salah satu wanita terbaik seantero alam
atas konfirmasi langsung dari manusia terbaik dan termulia, Rasūlullāh shallaLlāhu ‘alayhi wa sallam:
حَسْبُكَ مِنْ نِسَاءِ
العَالَمِينَ: مَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ،
وَفَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ.[1]
“Cukuplah bagimu di antara para wanita
seantero jagat raya: Maryam bint ‘Imrān, Khadījah bint Khuwaylid, Fāthimah bint
Muhammad, dan Āsiah istri Fir’aun.”
Pertemuan dengan Malaikat Jibrīl
Cerita
tentang proses kelahiran Nabi ‘Īsā
‘alayhissalām terabadikan dalam al-Qur`ān tepatnya pada surah Maryam mulai
ayat ke-22 sampai ke-26. Dalam 5 ayat tersebut Allāh subhānahu wa ta’ālā menjelaskan bagaimana situasi dan kondisi
Maryam saat berjuang melahirkan putra tercintanya. Kemudian bagaimana juga
Allāh dengan Maha Kasih Sayang-Nya menolong wanita suci nan mulia tersebut
untuk tegar, kuat dan tenang menghadapi hal itu.
Suatu
ketika, saat Maryam sedang menyendiri dan berzikir di sebuah tempat yang sepi
sebagaimana memang kebiasaannya, ia didatangi oleh Malaikat Jibrīl yang
menyamar sebagai seorang pria. Dalam surah Maryam ayat ke-18, dijelaskan bahwa
Maryam terkejut dengan kedatangan pria tersebut seraya berucap (membaca doa):
“Sungguh, aku berlindung kepada Tuhan
Yang Maha Pengasih dari (maksud jahat)-mu, jika engkau orang yang bertaqwa.”
(Q.S. Maryam: 18)
Kemudian
Malaikat Jibrīl berusaha menenangkan Maryam dengan berkata:
“Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu,
untuk menyampaikan anugerah kepadamu seorang anak laki-laki yang suci.”
(Q.S. Maryam: 19)
Sebagai
seorang perempuan yang masih perawan, tidak pernah disentuh laki-laki, tentu
saja Maryam terkejut dan terheran-heran atas hal ini. Akhirnya Jibrīl pun
menjelaskan bahwa hal tersebut sangat mudah bagi Allāh, karena jika Allāh sudah
berkehendak akan sesuatu lalu ia berkata ‘kun!’
(jadilah!), maka jadilah sesuatu itu. Mendengar jawaban ini, hati Maryam
pun menjadi tenang dan akhirnya ia dengan ikhlas menerima amanah itu.
Perjuangan Maryam Melahirkan ‘Īsā ‘Alayhissalām
Singkat
cerita, setelah beberapa waktu, atas izin Allāh Maryam pun hamil dan pergi
mengasingkan diri dari kaumnya dengan janin yang dikandungnya ke sebuah ‘tempat
yang jauh’ (makānan qashiyyan),
karena takut terhadap tatapan sinis, cibiran dan cemoohan mereka. Ia sudah
membayangkan, bahwa mereka pasti akan merasa aneh dan terkejut. Tempat yang
jauh itu bernama Betlehem[2] (bayt lahm), sebagaimana diriwayatkan oleh al-Nasā’ī (w. 303 H),
dari sahabat Anas bin Mālik radhiyaLlāhu
‘anhu (tepatnya pada hadīts Isrā Mi’rāj) bahwa Nabi shallaLlāhu ‘alayhi wa sallam bercerita (sebagaimana dalam potongan
hadīts-nya):
انْزِلْ فَصَلِّ، فَنَزَلْتُ فَصَلَّيْتُ، فَقَالَ:
أَتَدْرِي أَيْنَ صَلَّيْتَ؟ صَلَّيْتَ بِبَيْتِ لَحْمٍ، حَيْثُ وُلِدَ عِيسَى
عَلَيْهِ السَلَامُ.[3]
“(Jibril kemudian berkata padaku)
‘Turunlah lalu shalatlah!’ Aku kemudian shalat. Selepas itu Jibril bertanya,
‘Tahukah engkau, di mana engkau (shalat) sekarang? Engkau (shalat) di Betlehem,
tempat ‘Īsā putra Maryam dilahirkan.”
Setelah
Maryam pergi ke tempat yang jauh di Betlehem dan selang beberapa waktu, di
sanalah ia merasakan rasa sakit hendak melahirkan, yang membuatnya terpaksa
bersandar pada pangkal pohon kurma. Tidak ada seorang pun yang mendampingi
Maryam di sana. Al-Qur`ān menggambarkan kondisi yang sangat menggugah perasaan
ini dengan ungkapan: “Kemudian rasa sakit
akan melahirkan memaksanya bersandar pada pangkal pohon kurma.” Al-Makhādh adalah sebutan untuk rasa
sakit yang dirasakan wanita hamil saat mengalami kontraksi.
Rasa
sakit semakin dahsyat saat detik-detik melahirkan, diiringi dengan mengeluarkan
nafas panjang seraya mengatakan:
يٰلَيْتَنِيْ مِتُّ قَبْلَ هٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا
مَّنْسِيًّا
“Aduhai, andai saja aku mati sebelum ini, dan
aku menjadi seseorang yang tak diingat dan terlupakan,” (Q.S. Maryam: 23)
Ayat
ini seolah memberikan ‘sisi lain’ (masyhad
ākhar) di antara banyak sisi-sisi dari kisah Maryam. Betapa tidak? Pada
kisah ini, kita bisa melihat sosok Sayyidah Maryam kala menghadapi derita fisik
dan psikis. Derita fisik, tampak pada momen saat menghadapi rasa sakit hendak
melahirkan namun dalam keadaan seorang diri di sebuah tempat yang jauh dari
keramaian terutama keluarga, tanpa memiliki pengetahuan dan pengalaman
sedikitpun dalam menghadapi situasi semacam ini. Sedangkan cobaan psikis yang
beliau alami adalah ketidakmampuan beliau untuk tetap bersama keluarga dan
kaumnya, karena takut difitnah dan dicap melakukan perbuatan yang keji padahal
sejengkal pun tidak pernah ia lakukan.
Tanpa
didampingi seorang pun untuk membantunya dan menemaninya, ditambah tidak ada
unsur-unsur penopang kehidupan sedikitpun, maka tidak heran Maryam sempat ingin
mengharapkan mati kala itu. Namun perlu diingat bahwa para ulama menjelaskan
hal tersebut bukan sama sekali karena Maryam menyalahkan atau menyesali bayi
yang dikandungnya, namun karena ia sangat takut dan khawatir akan fitnah yang
akan terjadi pasca lahirnya Nabi ‘Īsā nanti. Ia juga ingin menghindari
perbincangan buruk orang-orang tentangnya terutama hal-hal yang sangat
mengada-ada, agar hal itu tidak menjadi penyebab mereka jatuh dalam kemaksiatan
dan mengundang murka Allah. Mengomentari ini, Imām Ibn Katsīr (w. 774 H)
berkata:
فِيْهِ دَلِيْلٌ عَلَى جَوَازِ تَمَنِّي الـمَوْتِ عِنْدَ
الفِتْنَةِ،[4]
Mengharapkan
kematian (tamannī al-maut) itu
hukumnya boleh selama yang bersangkutan sedang dalam kondisi ‘fitnah’ (sedang diberi ujian dan cobaan
yang sangat besar) plus dibarengi dengan niat mati syahīd. Selain alasan itu,
maka berharap mati adalah haram dan sangat dilarang syariat.
Sejurus
kemudian, setelah perjuangannya menahan rasa sakit melahirkan bayi tercintanya
seorang diri, dalam waktu singkat kesehatannya mulai memulih, dan secara
bertahap (setelah nantinya memakan kurma masak dan meminum air) dalam tempo
yang juga relatif singkat, ia benar-benar kembali pada kondisi normalnya.
Di
tengah situasi pilu nan haru yang dirasakan Maryam, ditambah kebingungan dengan
kondisi kesehatannya yang tiba-tiba mulai memulih namun masih dilanda cemas dan
sedih tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya, saat itulah ‘rahmat dan
kelembutan’ Allāh subhānahu wa ta’ālā menghampirinya,
hingga kesulitan berubah menjadi kemudahan dan kesempitan berubah menjadi
kelapangan.[5] ‘Īsā lahir dan Allāh subhānahu wa ta’ālā membuatnya bisa
berbicara. ‘Īsā berkata kepada ibunya sebagaimana al-Qur`ān mengisahkannya:
فَنَادٰىهَا مِنْ تَحْتِهَآ اَلَّا تَحْزَنِيْ قَدْ جَعَلَ
رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا
“Maka dia (Nabi ‘Īsā bayi) berseru kepadanya
dari tempat yang rendah, ‘Janganlah engkau (ibu) bersedih, sesungguhnya Tuhanmu
telah menjadikan anak sungai (air mengalir) di bawahmu,” (Q.S. Maryam: 24)
Inilah
salah satu kemukjizatan Nabi ‘Īsā ‘alayhi
al-salām yang diberikan Allāh subhānahu
wa ta’ālā. Allāh-lah yang mengilhamkan kepada ‘Īsā untuk mengucapkan perkataan itu kepada ibunya. Jika bukan karena
ilham dari Allāh, bagaimana mungkin ‘Īsā yang baru beberapa saat dilahirkan
bisa berbicara, dan memiliki ilmu serta hikmah? Ayat ini memotret kisah Nabi
‘Īsā yang mengajak ibunya untuk menghapus kecemasan dan kesedihan yang
menderanya serta mengajaknya agar tenang dan tidak perlu khawatir atas sesuatu
yang telah dan akan terjadi, sebab Allāh akan selalu menjaga dan melindungi.
Kemudian tentang anak sungai (sariyy)
yang diucapkan Nabi ‘Īsā, hal ini mengisyaratkan bahwa sebelumnya tidak ada
anak sungai atau sumber air di tempat tersebut. Saat Maryam masih bersandar ke
pangkal pohon kurma setelah melahirkan Nabi ‘Īsā, Allah memancarkan aliran air
di bawahnya untuk menghilangkan rasa haus yang dirasakan Maryam dan juga untuk
membersihkan tubuhnya.[6]
Pohon Kurma Berbuah Tidak pada
Musimnya
Setelah
‘Īsā menunjuk ke arah anak sungai yang mengalir di bawah Maryam, ‘Īsā
mengarahkan Maryam agar menggoyang pohon kurma di dekatnya. Allāh berfirman
melalui lisan mulia ‘Īsā:
وَهُزِّيْٓ
اِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسٰقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا ۖ
“Dan
goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan
menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu,”
(Q.S. Maryam: 25)
Pohon
kurma yang dijadikan sandaran oleh Maryam, yang di bawahnya ia melahirkan ‘Īsā,
dan ia diperintahkan untuk menggoyangnya, adalah pohon kurma yang tumbuh
berkembang, hijau, dan hidup. Buah kurma yang dihasilkan pohon tersebut, bukan
sekadar kurma biasa. Sebab, andaikan buah yang dihasilkan adalah buah kurma
biasa, tentu kelahiran ‘Īsā terjadi pada musim panas, karena masa matangnya
buah kurma hanya terjadi pada musim panas, yang menjadi musim panen kurma.
Namun sebagaimana yang masyhur, Nabi ‘Īsā lahir di musim dingin (sebagaimana
orang-orang Nasrani memperingati kelahiran Yesus pada 25 Desember yang
merupakan musim dingin).[7]
Padahal
alamiahnya, pohon kurma tidaklah berbuah pada musim dingin. Buah kurma yang
dihasilkan pohon kurma tersebut, adalah buah istimewa yang menjadi mukjizat
Allāh, karena Allāh memerintahkan pohon kurma tersebut membuahkan kurma muda,
lalu kurma muda menjadi kurma basah, lalu berubah menjadi kurma yang matang.
Ini semua terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Hal ini juga menguatkan
bahwa kurma tersebut merupakan suatu mukjizat, agar minuman dilengkapi dengan
makanan (atau sebaliknya), sehingga Maryam bisa mengonsumsi kurma masak lalu
meminum air dari anak sungai yang mengalir.
Ayat
ini selain menceritakan tentang pohon kurma dan buah yang dihasilkannya, juga
menyampaikan pesan bahwa melakukan upaya (sebab, ikhtiyār) merupakan sunnatuLlāh. Allāh sejatinya sangat
kuasa untuk menurunkan kurma-kurma matang itu langsung kepada Maryam, tanpa
upayanya menggoyang-goyangkan pohon sebagaimana dalam ayat lain diceritakan
bahwa Maryam sering kali mendapat rizqi dari Allāh tanpa usaha (bekerja), karena
kesalehan dan ibadahnya, tepatnya saat Maryam masih belia dan belum mengandung
‘Īsā. Allāh berfirman:
فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُوْلٍ حَسَنٍ وَّاَنْۢبَتَهَا
نَبَاتًا حَسَنًاۖ وَّكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا ۗ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا
زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَۙ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا ۚ قَالَ يٰمَرْيَمُ اَنّٰى
لَكِ هٰذَا ۗ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَرْزُقُ مَنْ
يَّشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Dia (Allāh) menerimanya (Maryam)
dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik, dan
menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakariyyā. Setiap kali Zakariyyā masuk
menemui di mihrabnya, dia mendapati makanan di sisinya. Dia berkata, “Wahai
Maryam, dari mana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allāh.”
Sesungguhnya Allāh memberi rizqi kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa
perhitungan. (Q.S. Āli ‘Imrān :37)
Namun,
dalam peristiwa bersejarah ini, Allāh menginginkan Maryam yang (sebenarnya)
kondisinya belum sepenuhnya pulih itu, untuk tetap ber-ikhtiyār dengan
melakukan gerakan-gerakan ringan, yaitu menggoyang-goyangkan (pelan) pangkal
pohon kurma dengan kedua tangannya.[8] Ini merupakan sebuah
pelajaran (tarbiyah) bagi Maryam (juga bagi kita tentunya) agar mengaitkan
tawakkal kepada Allāh, dengan tetap melakukan usaha-usaha walaupun terkadang
sesuatu tersebut sangat kecil dan terkesan tidak memberikan dampak yang nyata.
Perubahan Kondisi Psikis Maryam
Beriringan
setelah memberi tahu untuk makan dan minum demi memulihkan kondisi fisik Maryam
secara utuh, Allāh melalui lisan ‘Īsā langsung mempersilakan Maryam agar
‘bersenang-senang hati’;
فَكُلِيْ
وَاشْرَبِيْ وَقَرِّيْ عَيْنًا
“Makan,
minum, dan bersuka-citalah engkau.”
( Q.S. Maryam :26)
Firman
Allāh, “dan bersuka-citalah engkau,”
menunjukkan kondisi psikis yang baik dan bahagia, di mana Allāh mengalihkan
Maryam ke kondisi tersebut. Sebab sebelum melahirkan, ia mengalami situasi yang
sangat emosional, penuh kecemasan, sebagaimana tampak pada ucapannya (Q.S.
Maryam: 23). Namun setelah melahirkan janin yang dikandungnya, setelah terlepas
dari situasi genting dengan selamat, dan setelah mendengar ucapan anaknya
kepada dirinya, ia melihat tanda-tanda pertolongan dan perlindungan yang Allāh
berikan kepadanya. Ia berada dalam naungan mukjizat-mukjizat yang
dipersembahkan untuknya. la lantas memakan kurma masak, meminum air dari anak
sungai yang mengalir di bawahnya, dan merasa senang dan bahagia melihat
anaknya, yang menjadikannya sangat bahagia sebagaimana hal itu terpancar pada
matanya.[9] Itulah mengapa al-Qur`ān
menggunakan lafal ‘aynan, sebab mata
adalah bagian tubuh manusia yang paling tampak. Pada mata, akan tampak tanda
atau kondisi hati/jiwa seseorang, apakah sedang baik atau sebaliknya,
sebagaimana ungkapan dari Ibn Bassām (seorang penyair dan sejarawan Arab
kelahiran Portugal yang dulunya masih cakupan wilayah Andalusia; w. 542 H):
أَلَا
إِنَّ عَينَ الـمَرْءِ عُـنْـــوَانُ قَلْبِــــهِ * تُخَــــــــبِّرُ عَنْ
أَسْـــــــرَارهِ شَــــاءَ أَمْ أَبَى[10]
Ingatlah! Mata adalah alamat hati
manusia, mau tak mau ia akan mengabarkan segala rahasianya.
Perintah Kepada Maryam Untuk Puasa
Bicara
Setelah
Maryam sudah mencapai kondisi pulih sempurna dari ujian fisik dan psikis
sebagaimana cerita sebelumnya, maka tiba saatnya ia untuk melakukan tindakan
selanjutnya, yaitu kembali pulang ke tempat tinggalnya, sebagaimana perintah
Allāh subhānahu wa ta’āla via lisan
mulia Nabi ‘Īsā bayi ‘alayhissalām:
فَاِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ اَحَدًاۙ فَقُوْلِيْٓ
اِنِّيْ نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْمًا فَلَنْ اُكَلِّمَ الْيَوْمَ اِنْسِيًّا ۚ
“Jika engkau melihat seseorang (yang
sepertinya akan bertanya-tanya apalagi menuding keji atas dirimu), maka
katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah bernazar puasa (bicara) untuk Tuhan Yang
Maha Pengasih. Oleh karena itu, aku tidak akan berbicara dengan siapa pun saat
ini.” (Q.S. Maryam: 26)
Penjelasan
tentang ayat ini, sebagaimana versi mayoritas ulama tafsir adalah sebagai
berikut:
‘Īsā berkata kepada ibunya,
“(Ibu), pulanglah ke keluargamu dengan menggendongku, lalu jika kau
melihat seseorang berbuat tidak baik terhadap dirimu, baik dari kalangan
keluarga kita sendiri ataupun orang lain, dan mereka merasa aneh terhadap
dirimu, lantaran engkau menggendong bayi dalam dekapanmu, serta bertanya-tanya
kepadamu tentang rahasia di balik ini, maka janganlah engkau menjawab
pertanyaan mereka, dan tak perlu pula berbicara kepada mereka. Cukup engkau
berisyarat saja kepada mereka, bahwa engkau sedang berpuasa bicara dan bernazar
untuk tidak berbicara kepada siapa pun juga. Alihkan saja pertanyaan mereka
kepadaku, biar aku yang akan berbicara dan memberikan penjelasan.
Inilah
makna yang bisa dipahami dari rangkaian kalimat: “Jika engkau melihat seseorang, maka katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah
bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara
dengan siapa pun pada hari ini’.”[11]
Sebab,
makna dari “Maka katakanlah” adalah “berisyaratlah” kepada orang yang berbicara
kepadamu dan bertanya kepadamu dengan isyarat yang menunjukkan bahwa engkau
sedang puasa bicara dan tidak diperbolehkan untuk berbicara kepada siapapun
juga. Bahasa isyarat itu mewakili ucapan, yang maksudnya bisa dipahami oleh
lawan bicara, seakan isyarat tersebut adalah ucapan yang keluar dari mulut.
Isyarat bisa dilakukan dengan tangan, mata, lidah, atau yang lainnya yang dapat
mengungkapkan isi hati. Lawan bicara bisa memahami isyarat tersebut, seperti
halnya ucapan yang keluar dari mulut, atau bahkan lebih.
Allāh
menjadikan puasa dan diamnya Maryam dari berbicara, sebagai pertanda baginya
yang menunjukkan bahwa ia tidak bersalah dan ia suci. Ketika ia berpuasa dari
berbicara, meski ia mampu untuk berbicara, Allāh membuat anaknya yang masih
bayi, ‘Īsā, yang baru beberapa saat lalu dilahirkan dan masih berada dalam
buaian, bisa berbicara. Maka dari itu, ucapan ‘Īsā yang masih bayi itu lebih
kuat dan lebih sempurna untuk menepis tudingan yang diarahkan kepadanya. Inilah
pendapat mayoritas para mufassir.[12]
Epilog
Perjuangan Sayyidah Maryam dalam melahirkan Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām adalah kisah yang sarat
dengan nilai-nilai ketabahan, keimanan, dan keikhlasan. Kisah ini mengingatkan
kita bahwa setiap ujian yang diberikan Allāh subhānahu wa ta’āla, meskipun terasa berat, adalah bagian dari
rencana-Nya yang lebih besar. Ketika Maryam menghadapi kesepian dan kesakitan,
ia tidak menyerah pada keadaan, tetapi memilih untuk bersabar dan tetap
beriman. Ia tahu betul bahwa Allāh subhānahu
wa ta’āla senantiasa memberikan jalan keluar bagi hamba-Nya yang bertaqwa,
seperti yang terbukti dengan lahirnya Nabi ‘Īsā, yang kemudian menjadi salah
satu rasul teragung dan terpenting dalam sejarah umat Islam.
Melalui narasi ini, kita diundang untuk merefleksikan perjalanan
spiritual kita masing-masing. Apakah kita cukup berani untuk menghadapi
tantangan dalam hidup kita? Apakah kita mampu meneladani keteguhan hati Maryam
dalam menjaga keyakinan dan menjalani takdir yang telah ditentukan? Setiap
individu memiliki cerita dan perjuangannya sendiri, dan seperti Maryam, kita
pun diharapkan untuk tetap teguh dalam iman, berusaha, dan berserah kepada
Allāh subhānahu wa ta’āla.
Semoga kisah heroik Sayyidah Maryam ini menjadi sumber inspirasi
bagi kita semua, terutama bagi generasi muda, untuk senantiasa berjuang dalam
kebaikan dan tidak pernah kehilangan harapan. Dengan memahami dan menghayati
perjalanan hidupnya, kita belajar bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan,
dan setiap perjalanan iman akan membuahkan hasil yang indah jika kita bersabar
dan terus berusaha. Mari kita ikuti jejak Maryam, menjadikan ketekunan dan
keikhlasan sebagai pedoman dalam menjalani hidup, serta selalu mengingat bahwa
di balik setiap ujian terdapat hikmah yang tak ternilai.
1.
Daftar
Pustaka
Ahmad
al-Syaqāwī. al-Mar`ah fī al-Qashash
al-Qur`ānī. Cairo: Dār al-Salām li al-Thibā’ah, 2001.
al-Nasā`ī.
Sunan al Nasā`ī. Cairo: al-Maktabah
al-Tijāririyyah, 1986.
Ibn
Katsīr. Tafsīr Ibn Katsīr. Riyadh:
Dār al-Thaibah, 1999.
al-Thabarī.
Jāmi’ al-Bayān fī Ta`wīl al-Qur`ān,
Tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir. Beirut: Mu`assasah al-Risālah, 2000.
Shalāh
al-Khālidī. al-Qashash al-Qur`ānī: ‘Ardhu
Waqā`i’ wa Tahlīl Ahdāts. Damaskus: Dār al-Qalam, 1998.
Muhammad
Musthafa al-Zuhailī. Syir’atullāh li
al-Anbiyā fī al-Qur`ān al-Karīm wa al-Sunnah. Damaskus: Dār Ibn Katsīr,
2018.
‘Ali Muhammad al-Shallābi. ‘Īsā ibn Maryam: al-Haqīqah al-Kāmilah.
Damaskus: Dār Ibn Katsīr. 2019.
al-Rāghib
al-Ashfahānī, Muhādharāt al-Udābā wa
Muhāwarāt al-Syu’arā wa al-Bulaghā`. Beirut: Syirkah Dār al-Arqām, 1420 H.
Muhammad
al-Amīn al-Syinqīthī. Adhwā` al-Bayān fī
Īdhah al-Qur`ān bi al-Qur`ān. Beirut: Dār al-Fikr, 1995.
[1]
al-Tirmidzī, Sunan al-Tirmidzī, vol.
6, Tahqiq: Bassyar ‘Awwad (Beirut: Dār al-Gharbi al-Islami, 1996), hlm. 179.
[2]
Betlehem ini terletak di sebelah selatan al Quds (ibu kota Palestina) dengan
jarak sekitar 9 mil. Lihat: Ahmad al-Syaqāwī, al-Mar`ah fī al-Qashash al-Qur`ānī, vol. 2 (Cairo: Dār al-Salām li
al-Thibā’ah, 2001), hlm. 692.
[3]
al-Nasā`ī, Sunan al Nasā`ī, vol. 1
(Cairo: al-Maktabah al-Tijāririyyah, 1986), hlm. 221.
[4]
Lihat: Ibn Katsīr, Tafsīr Ibn Katsīr,
vol. 5 (Riyadh: Dār al-Thaibah, 1999), hlm. 223.
[5]
Ahmad al-Syaqāwī, al-Mar`ah fī al-Qashash
al-Qur`ānī, vol. 2…, hlm. 696.
[6]
Lihat: al-Thabarī, Jāmi’ al-Bayān fī
Ta`wīl al-Qur`ān, vol. 16, Tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir (Beirut:
Mu`assasah al-Risālah, 2000), hlm. 24.
[7]
Lihat: Shalāh al-Khālidī, al-Qashash
al-Qur`ānī: ‘Ardhu Waqāi’ wa Tahlīl Ahdāts, vol. 4 (Damaskus: Dār al-Qalam,
1998) hlm. 254.
[8]
Muhammad Musthafa al-Zuhailī, Syir’atullāh
li al-Anbiyā fī al-Qur`ān al-Karīm wa al-Sunnah (Damaskus: Dār Ibn Katsīr,
2018), hlm. 608.
[9]
‘Ali Muhammad al-Shallābi, ‘Īsā ibn
Maryam: al-Haqīqah al-Kāmilah, (Damaskus: Dār Ibn Katsīr. 2019), hlm. 159.
[10]
al-Rāghib al-Ashfahānī, Muhādharāt
al-Udābā wa Muhāwarāt al-Syu’arā wa al-Bulaghā`, vol. 2 (Beirut: Syirkah
Dār al-Arqām, 1420 H), hlm. 10.
[11]
Lihat: Shalāh al-Khālidī, al-Qashash
al-Qur`ānī: ‘Ardhu Waqā`i’ wa Tahlīl Ahdāts, vol. 4, hlm. 262.
[12]
Lihat: Muhammad al-Amīn al-Syinqīthī, Adhwā`
al-Bayān fī Īdhah al-Qur`ān bi al-Qur`ān, vol. 3 (Beirut: Dār al-Fikr,
1995), hlm. 401.

Tinggalkan komentar