Perjuangan Sayyidah Maryam:Kisah Haru dan Heroik Melahirkan Nabi ‘Īsā ‘Alaihissalām

29
Des 2024
Kategori : Kisah Hikmah
Penulis : admin
Dilihat :1855x

Perjuangan Sayyidah Maryam:

Kisah Haru dan Heroik Melahirkan Nabi ‘Īsā ‘Alaihissalām

Oleh: Muhammad Fajar Adyatama, S.Pd.

                    

Prolog

Baru-baru ini, saudara kita umat Kristiani memperingati sekaligus merayakan hari kelahiran sosok agung yang dalam agama Islam merupakan seorang utusan (rasūl) Allāh, yakni Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām. Nabi ‘Īsā merupakan salah satu dari 5 nabi dan rasul yang mendapat keistimewaan dengan menyandang gelar Ulul ‘Azhmī (yakni para nabi dan rasūl yang berhasil mencapai level ketabahan dan kesabaran paling tinggi; mereka adalah Nabi Nūh, Nabi Mūsā, Nabi Ibrāhīm, Nabi ‘Īsā ‘alayhimussalām, dan Nabi Muhammad shallaLlāhu ‘alayhi wa sallam) karena keimanan dan ujian yang mereka dapatkan.

 

Nabi ‘Īsā—sebagaimana terpotret sangat jelas (sharīh) dalam al-Qur`ān—merupakan satu-satunya manusia yang lahir tanpa seorang ayah (selain Nabi Ādam, bedanya Nabi Ādam lahir tanpa ayah karena memang beliau adalah bapak/ayahnya umat manusia). Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām lahir dari rahim seorang wanita bernama Maryam bint ‘Imrān, seorang perempuan agung nan suci yang telah dipilih Allāh (sebagaimana termaktub pada Q.S. Āli ‘Imrān: 22) dan salah satu wanita terbaik seantero alam atas konfirmasi langsung dari manusia terbaik dan termulia, Rasūlullāh shallaLlāhu ‘alayhi wa sallam:

 

حَسْبُكَ مِنْ نِسَاءِ العَالَمِينَ: مَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَفَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ.[1]

Cukuplah bagimu di antara para wanita seantero jagat raya: Maryam bint ‘Imrān, Khadījah bint Khuwaylid, Fāthimah bint Muhammad, dan Āsiah istri Fir’aun.

 

Pertemuan dengan Malaikat Jibrīl

Cerita tentang proses kelahiran Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām terabadikan dalam al-Qur`ān tepatnya pada surah Maryam mulai ayat ke-22 sampai ke-26. Dalam 5 ayat tersebut Allāh subhānahu wa ta’ālā menjelaskan bagaimana situasi dan kondisi Maryam saat berjuang melahirkan putra tercintanya. Kemudian bagaimana juga Allāh dengan Maha Kasih Sayang-Nya menolong wanita suci nan mulia tersebut untuk tegar, kuat dan tenang menghadapi hal itu.

 

Suatu ketika, saat Maryam sedang menyendiri dan berzikir di sebuah tempat yang sepi sebagaimana memang kebiasaannya, ia didatangi oleh Malaikat Jibrīl yang menyamar sebagai seorang pria. Dalam surah Maryam ayat ke-18, dijelaskan bahwa Maryam terkejut dengan kedatangan pria tersebut seraya berucap (membaca doa):

 

“Sungguh, aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dari (maksud jahat)-mu, jika engkau orang yang bertaqwa.” (Q.S. Maryam: 18)

 

Kemudian Malaikat Jibrīl berusaha menenangkan Maryam dengan berkata:

 

Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu, untuk menyampaikan anugerah kepadamu seorang anak laki-laki yang suci.” (Q.S. Maryam: 19)

 

Sebagai seorang perempuan yang masih perawan, tidak pernah disentuh laki-laki, tentu saja Maryam terkejut dan terheran-heran atas hal ini. Akhirnya Jibrīl pun menjelaskan bahwa hal tersebut sangat mudah bagi Allāh, karena jika Allāh sudah berkehendak akan sesuatu lalu ia berkata ‘kun!’ (jadilah!), maka jadilah sesuatu itu. Mendengar jawaban ini, hati Maryam pun menjadi tenang dan akhirnya ia dengan ikhlas menerima amanah itu.

 

Perjuangan Maryam Melahirkan ‘Īsā ‘Alayhissalām

Singkat cerita, setelah beberapa waktu, atas izin Allāh Maryam pun hamil dan pergi mengasingkan diri dari kaumnya dengan janin yang dikandungnya ke sebuah ‘tempat yang jauh’ (makānan qashiyyan), karena takut terhadap tatapan sinis, cibiran dan cemoohan mereka. Ia sudah membayangkan, bahwa mereka pasti akan merasa aneh dan terkejut. Tempat yang jauh itu bernama Betlehem[2] (bayt lahm), sebagaimana diriwayatkan oleh al-Nasā’ī (w. 303 H), dari sahabat Anas bin Mālik radhiyaLlāhu ‘anhu (tepatnya pada hadīts Isrā Mi’rāj) bahwa Nabi shallaLlāhu ‘alayhi wa sallam bercerita (sebagaimana dalam potongan hadīts-nya):

 

انْزِلْ فَصَلِّ، فَنَزَلْتُ فَصَلَّيْتُ، فَقَالَ: أَتَدْرِي أَيْنَ صَلَّيْتَ؟ صَلَّيْتَ بِبَيْتِ لَحْمٍ، حَيْثُ وُلِدَ عِيسَى عَلَيْهِ السَلَامُ.[3]

“(Jibril kemudian berkata padaku) ‘Turunlah lalu shalatlah!’ Aku kemudian shalat. Selepas itu Jibril bertanya, ‘Tahukah engkau, di mana engkau (shalat) sekarang? Engkau (shalat) di Betlehem, tempat ‘Īsā putra Maryam dilahirkan.”

 

Setelah Maryam pergi ke tempat yang jauh di Betlehem dan selang beberapa waktu, di sanalah ia merasakan rasa sakit hendak melahirkan, yang membuatnya terpaksa bersandar pada pangkal pohon kurma. Tidak ada seorang pun yang mendampingi Maryam di sana. Al-Qur`ān menggambarkan kondisi yang sangat menggugah perasaan ini dengan ungkapan: “Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya bersandar pada pangkal pohon kurma.” Al-Makhādh adalah sebutan untuk rasa sakit yang dirasakan wanita hamil saat mengalami kontraksi.

 

Rasa sakit semakin dahsyat saat detik-detik melahirkan, diiringi dengan mengeluarkan nafas panjang seraya mengatakan:

 

يٰلَيْتَنِيْ مِتُّ قَبْلَ هٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَّنْسِيًّا

Aduhai, andai saja aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seseorang yang tak diingat dan terlupakan,” (Q.S. Maryam: 23)

 

Ayat ini seolah memberikan ‘sisi lain’ (masyhad ākhar) di antara banyak sisi-sisi dari kisah Maryam. Betapa tidak? Pada kisah ini, kita bisa melihat sosok Sayyidah Maryam kala menghadapi derita fisik dan psikis. Derita fisik, tampak pada momen saat menghadapi rasa sakit hendak melahirkan namun dalam keadaan seorang diri di sebuah tempat yang jauh dari keramaian terutama keluarga, tanpa memiliki pengetahuan dan pengalaman sedikitpun dalam menghadapi situasi semacam ini. Sedangkan cobaan psikis yang beliau alami adalah ketidakmampuan beliau untuk tetap bersama keluarga dan kaumnya, karena takut difitnah dan dicap melakukan perbuatan yang keji padahal sejengkal pun tidak pernah ia lakukan.

 

Tanpa didampingi seorang pun untuk membantunya dan menemaninya, ditambah tidak ada unsur-unsur penopang kehidupan sedikitpun, maka tidak heran Maryam sempat ingin mengharapkan mati kala itu. Namun perlu diingat bahwa para ulama menjelaskan hal tersebut bukan sama sekali karena Maryam menyalahkan atau menyesali bayi yang dikandungnya, namun karena ia sangat takut dan khawatir akan fitnah yang akan terjadi pasca lahirnya Nabi ‘Īsā nanti. Ia juga ingin menghindari perbincangan buruk orang-orang tentangnya terutama hal-hal yang sangat mengada-ada, agar hal itu tidak menjadi penyebab mereka jatuh dalam kemaksiatan dan mengundang murka Allah. Mengomentari ini, Imām Ibn Katsīr (w. 774 H) berkata:

 

فِيْهِ دَلِيْلٌ عَلَى جَوَازِ تَمَنِّي الـمَوْتِ عِنْدَ الفِتْنَةِ،[4]

 

Mengharapkan kematian (tamannī al-maut) itu hukumnya boleh selama yang bersangkutan sedang dalam kondisi ‘fitnah’ (sedang diberi ujian dan cobaan yang sangat besar) plus dibarengi dengan niat mati syahīd. Selain alasan itu, maka berharap mati adalah haram dan sangat dilarang syariat.

 

Sejurus kemudian, setelah perjuangannya menahan rasa sakit melahirkan bayi tercintanya seorang diri, dalam waktu singkat kesehatannya mulai memulih, dan secara bertahap (setelah nantinya memakan kurma masak dan meminum air) dalam tempo yang juga relatif singkat, ia benar-benar kembali pada kondisi normalnya.

 

Di tengah situasi pilu nan haru yang dirasakan Maryam, ditambah kebingungan dengan kondisi kesehatannya yang tiba-tiba mulai memulih namun masih dilanda cemas dan sedih tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya, saat itulah ‘rahmat dan kelembutan’ Allāh subhānahu wa ta’ālā menghampirinya, hingga kesulitan berubah menjadi kemudahan dan kesempitan berubah menjadi kelapangan.[5] ‘Īsā lahir dan Allāh subhānahu wa ta’ālā membuatnya bisa berbicara. ‘Īsā berkata kepada ibunya sebagaimana al-Qur`ān mengisahkannya:

 

فَنَادٰىهَا مِنْ تَحْتِهَآ اَلَّا تَحْزَنِيْ قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا

Maka dia (Nabi ‘Īsā bayi) berseru kepadanya dari tempat yang rendah, ‘Janganlah engkau (ibu) bersedih, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai (air mengalir) di bawahmu,” (Q.S. Maryam: 24)

 

Inilah salah satu kemukjizatan Nabi ‘Īsā ‘alayhi al-salām yang diberikan Allāh subhānahu wa ta’ālā. Allāh-lah yang mengilhamkan kepada ‘Īsā untuk mengucapkan perkataan itu kepada ibunya. Jika bukan karena ilham dari Allāh, bagaimana mungkin ‘Īsā yang baru beberapa saat dilahirkan bisa berbicara, dan memiliki ilmu serta hikmah? Ayat ini memotret kisah Nabi ‘Īsā yang mengajak ibunya untuk menghapus kecemasan dan kesedihan yang menderanya serta mengajaknya agar tenang dan tidak perlu khawatir atas sesuatu yang telah dan akan terjadi, sebab Allāh akan selalu menjaga dan melindungi. Kemudian tentang anak sungai (sariyy) yang diucapkan Nabi ‘Īsā, hal ini mengisyaratkan bahwa sebelumnya tidak ada anak sungai atau sumber air di tempat tersebut. Saat Maryam masih bersandar ke pangkal pohon kurma setelah melahirkan Nabi ‘Īsā, Allah memancarkan aliran air di bawahnya untuk menghilangkan rasa haus yang dirasakan Maryam dan juga untuk membersihkan tubuhnya.[6]

 

Pohon Kurma Berbuah Tidak pada Musimnya

Setelah ‘Īsā menunjuk ke arah anak sungai yang mengalir di bawah Maryam, ‘Īsā mengarahkan Maryam agar menggoyang pohon kurma di dekatnya. Allāh berfirman melalui lisan mulia ‘Īsā:

 

وَهُزِّيْٓ اِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسٰقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا ۖ

“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu,” (Q.S. Maryam: 25)

 

Pohon kurma yang dijadikan sandaran oleh Maryam, yang di bawahnya ia melahirkan ‘Īsā, dan ia diperintahkan untuk menggoyangnya, adalah pohon kurma yang tumbuh berkembang, hijau, dan hidup. Buah kurma yang dihasilkan pohon tersebut, bukan sekadar kurma biasa. Sebab, andaikan buah yang dihasilkan adalah buah kurma biasa, tentu kelahiran ‘Īsā terjadi pada musim panas, karena masa matangnya buah kurma hanya terjadi pada musim panas, yang menjadi musim panen kurma. Namun sebagaimana yang masyhur, Nabi ‘Īsā lahir di musim dingin (sebagaimana orang-orang Nasrani memperingati kelahiran Yesus pada 25 Desember yang merupakan musim dingin).[7]

 

Padahal alamiahnya, pohon kurma tidaklah berbuah pada musim dingin. Buah kurma yang dihasilkan pohon kurma tersebut, adalah buah istimewa yang menjadi mukjizat Allāh, karena Allāh memerintahkan pohon kurma tersebut membuahkan kurma muda, lalu kurma muda menjadi kurma basah, lalu berubah menjadi kurma yang matang. Ini semua terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Hal ini juga menguatkan bahwa kurma tersebut merupakan suatu mukjizat, agar minuman dilengkapi dengan makanan (atau sebaliknya), sehingga Maryam bisa mengonsumsi kurma masak lalu meminum air dari anak sungai yang mengalir.

 

Ayat ini selain menceritakan tentang pohon kurma dan buah yang dihasilkannya, juga menyampaikan pesan bahwa melakukan upaya (sebab, ikhtiyār) merupakan sunnatuLlāh. Allāh sejatinya sangat kuasa untuk menurunkan kurma-kurma matang itu langsung kepada Maryam, tanpa upayanya menggoyang-goyangkan pohon sebagaimana dalam ayat lain diceritakan bahwa Maryam sering kali mendapat rizqi dari Allāh tanpa usaha (bekerja), karena kesalehan dan ibadahnya, tepatnya saat Maryam masih belia dan belum mengandung ‘Īsā. Allāh berfirman:

 

فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُوْلٍ حَسَنٍ وَّاَنْۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًاۖ وَّكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا ۗ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَۙ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا ۚ قَالَ يٰمَرْيَمُ اَنّٰى لَكِ هٰذَا ۗ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Dia (Allāh) menerimanya (Maryam) dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik, dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakariyyā. Setiap kali Zakariyyā masuk menemui di mihrabnya, dia mendapati makanan di sisinya. Dia berkata, “Wahai Maryam, dari mana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allāh.” Sesungguhnya Allāh memberi rizqi kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan. (Q.S. Āli ‘Imrān :37)

 

Namun, dalam peristiwa bersejarah ini, Allāh menginginkan Maryam yang (sebenarnya) kondisinya belum sepenuhnya pulih itu, untuk tetap ber-ikhtiyār dengan melakukan gerakan-gerakan ringan, yaitu menggoyang-goyangkan (pelan) pangkal pohon kurma dengan kedua tangannya.[8] Ini merupakan sebuah pelajaran (tarbiyah) bagi Maryam (juga bagi kita tentunya) agar mengaitkan tawakkal kepada Allāh, dengan tetap melakukan usaha-usaha walaupun terkadang sesuatu tersebut sangat kecil dan terkesan tidak memberikan dampak yang nyata.

 

Perubahan Kondisi Psikis Maryam

Beriringan setelah memberi tahu untuk makan dan minum demi memulihkan kondisi fisik Maryam secara utuh, Allāh melalui lisan ‘Īsā langsung mempersilakan Maryam agar ‘bersenang-senang hati’;

فَكُلِيْ وَاشْرَبِيْ وَقَرِّيْ عَيْنًا

“Makan, minum, dan bersuka-citalah engkau.” ( Q.S. Maryam :26)

 

Firman Allāh, “dan bersuka-citalah engkau,” menunjukkan kondisi psikis yang baik dan bahagia, di mana Allāh mengalihkan Maryam ke kondisi tersebut. Sebab sebelum melahirkan, ia mengalami situasi yang sangat emosional, penuh kecemasan, sebagaimana tampak pada ucapannya (Q.S. Maryam: 23). Namun setelah melahirkan janin yang dikandungnya, setelah terlepas dari situasi genting dengan selamat, dan setelah mendengar ucapan anaknya kepada dirinya, ia melihat tanda-tanda pertolongan dan perlindungan yang Allāh berikan kepadanya. Ia berada dalam naungan mukjizat-mukjizat yang dipersembahkan untuknya. la lantas memakan kurma masak, meminum air dari anak sungai yang mengalir di bawahnya, dan merasa senang dan bahagia melihat anaknya, yang menjadikannya sangat bahagia sebagaimana hal itu terpancar pada matanya.[9] Itulah mengapa al-Qur`ān menggunakan lafal ‘aynan, sebab mata adalah bagian tubuh manusia yang paling tampak. Pada mata, akan tampak tanda atau kondisi hati/jiwa seseorang, apakah sedang baik atau sebaliknya, sebagaimana ungkapan dari Ibn Bassām (seorang penyair dan sejarawan Arab kelahiran Portugal yang dulunya masih cakupan wilayah Andalusia; w. 542 H):

 

أَلَا إِنَّ عَينَ الـمَرْءِ عُـنْـــوَانُ قَلْبِــــهِ * تُخَــــــــبِّرُ عَنْ أَسْـــــــرَارهِ شَــــاءَ أَمْ أَبَى[10]

Ingatlah! Mata adalah alamat hati manusia, mau tak mau ia akan mengabarkan segala rahasianya.

 

Perintah Kepada Maryam Untuk Puasa Bicara

Setelah Maryam sudah mencapai kondisi pulih sempurna dari ujian fisik dan psikis sebagaimana cerita sebelumnya, maka tiba saatnya ia untuk melakukan tindakan selanjutnya, yaitu kembali pulang ke tempat tinggalnya, sebagaimana perintah Allāh subhānahu wa ta’āla via lisan mulia Nabi ‘Īsā bayi ‘alayhissalām:

 

فَاِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ اَحَدًاۙ فَقُوْلِيْٓ اِنِّيْ نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْمًا فَلَنْ اُكَلِّمَ الْيَوْمَ اِنْسِيًّا ۚ

“Jika engkau melihat seseorang (yang sepertinya akan bertanya-tanya apalagi menuding keji atas dirimu), maka katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah bernazar puasa (bicara) untuk Tuhan Yang Maha Pengasih. Oleh karena itu, aku tidak akan berbicara dengan siapa pun saat ini.” (Q.S. Maryam: 26)

 

Penjelasan tentang ayat ini, sebagaimana versi mayoritas ulama tafsir adalah sebagai berikut:

‘Īsā berkata kepada ibunya, “(Ibu), pulanglah ke keluargamu dengan menggendongku, lalu jika kau melihat seseorang berbuat tidak baik terhadap dirimu, baik dari kalangan keluarga kita sendiri ataupun orang lain, dan mereka merasa aneh terhadap dirimu, lantaran engkau menggendong bayi dalam dekapanmu, serta bertanya-tanya kepadamu tentang rahasia di balik ini, maka janganlah engkau menjawab pertanyaan mereka, dan tak perlu pula berbicara kepada mereka. Cukup engkau berisyarat saja kepada mereka, bahwa engkau sedang berpuasa bicara dan bernazar untuk tidak berbicara kepada siapa pun juga. Alihkan saja pertanyaan mereka kepadaku, biar aku yang akan berbicara dan memberikan penjelasan.

 

Inilah makna yang bisa dipahami dari rangkaian kalimat: “Jika engkau melihat seseorang, maka katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini’.”[11]

 

Sebab, makna dari “Maka katakanlah” adalah “berisyaratlah” kepada orang yang berbicara kepadamu dan bertanya kepadamu dengan isyarat yang menunjukkan bahwa engkau sedang puasa bicara dan tidak diperbolehkan untuk berbicara kepada siapapun juga. Bahasa isyarat itu mewakili ucapan, yang maksudnya bisa dipahami oleh lawan bicara, seakan isyarat tersebut adalah ucapan yang keluar dari mulut. Isyarat bisa dilakukan dengan tangan, mata, lidah, atau yang lainnya yang dapat mengungkapkan isi hati. Lawan bicara bisa memahami isyarat tersebut, seperti halnya ucapan yang keluar dari mulut, atau bahkan lebih.

 

Allāh menjadikan puasa dan diamnya Maryam dari berbicara, sebagai pertanda baginya yang menunjukkan bahwa ia tidak bersalah dan ia suci. Ketika ia berpuasa dari berbicara, meski ia mampu untuk berbicara, Allāh membuat anaknya yang masih bayi, ‘Īsā, yang baru beberapa saat lalu dilahirkan dan masih berada dalam buaian, bisa berbicara. Maka dari itu, ucapan ‘Īsā yang masih bayi itu lebih kuat dan lebih sempurna untuk menepis tudingan yang diarahkan kepadanya. Inilah pendapat mayoritas para mufassir.[12]

 

Epilog

Perjuangan Sayyidah Maryam dalam melahirkan Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām adalah kisah yang sarat dengan nilai-nilai ketabahan, keimanan, dan keikhlasan. Kisah ini mengingatkan kita bahwa setiap ujian yang diberikan Allāh subhānahu wa ta’āla, meskipun terasa berat, adalah bagian dari rencana-Nya yang lebih besar. Ketika Maryam menghadapi kesepian dan kesakitan, ia tidak menyerah pada keadaan, tetapi memilih untuk bersabar dan tetap beriman. Ia tahu betul bahwa Allāh subhānahu wa ta’āla senantiasa memberikan jalan keluar bagi hamba-Nya yang bertaqwa, seperti yang terbukti dengan lahirnya Nabi ‘Īsā, yang kemudian menjadi salah satu rasul teragung dan terpenting dalam sejarah umat Islam.

 

Melalui narasi ini, kita diundang untuk merefleksikan perjalanan spiritual kita masing-masing. Apakah kita cukup berani untuk menghadapi tantangan dalam hidup kita? Apakah kita mampu meneladani keteguhan hati Maryam dalam menjaga keyakinan dan menjalani takdir yang telah ditentukan? Setiap individu memiliki cerita dan perjuangannya sendiri, dan seperti Maryam, kita pun diharapkan untuk tetap teguh dalam iman, berusaha, dan berserah kepada Allāh subhānahu wa ta’āla.

 

Semoga kisah heroik Sayyidah Maryam ini menjadi sumber inspirasi bagi kita semua, terutama bagi generasi muda, untuk senantiasa berjuang dalam kebaikan dan tidak pernah kehilangan harapan. Dengan memahami dan menghayati perjalanan hidupnya, kita belajar bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan, dan setiap perjalanan iman akan membuahkan hasil yang indah jika kita bersabar dan terus berusaha. Mari kita ikuti jejak Maryam, menjadikan ketekunan dan keikhlasan sebagai pedoman dalam menjalani hidup, serta selalu mengingat bahwa di balik setiap ujian terdapat hikmah yang tak ternilai.

 

 

1.                  Daftar Pustaka

Ahmad al-Syaqāwī. al-Mar`ah fī al-Qashash al-Qur`ānī. Cairo: Dār al-Salām li al-Thibā’ah, 2001.

al-Nasā`ī. Sunan al Nasā`ī. Cairo: al-Maktabah al-Tijāririyyah, 1986.

Ibn Katsīr. Tafsīr Ibn Katsīr. Riyadh: Dār al-Thaibah, 1999.

al-Thabarī. Jāmi’ al-Bayān fī Ta`wīl al-Qur`ān, Tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir. Beirut: Mu`assasah al-Risālah, 2000.

Shalāh al-Khālidī. al-Qashash al-Qur`ānī: ‘Ardhu Waqā`i’ wa Tahlīl Ahdāts. Damaskus: Dār al-Qalam, 1998.

Muhammad Musthafa al-Zuhailī. Syir’atullāh li al-Anbiyā fī al-Qur`ān al-Karīm wa al-Sunnah. Damaskus: Dār Ibn Katsīr, 2018.

 ‘Ali Muhammad al-Shallābi. ‘Īsā ibn Maryam: al-Haqīqah al-Kāmilah. Damaskus: Dār Ibn Katsīr. 2019.

al-Rāghib al-Ashfahānī, Muhādharāt al-Udābā wa Muhāwarāt al-Syu’arā wa al-Bulaghā`. Beirut: Syirkah Dār al-Arqām, 1420 H.

Muhammad al-Amīn al-Syinqīthī. Adhwā` al-Bayān fī Īdhah al-Qur`ān bi al-Qur`ān. Beirut: Dār al-Fikr, 1995.

 

 

 



[1] al-Tirmidzī, Sunan al-Tirmidzī, vol. 6, Tahqiq: Bassyar ‘Awwad (Beirut: Dār al-Gharbi al-Islami, 1996), hlm. 179.

[2] Betlehem ini terletak di sebelah selatan al Quds (ibu kota Palestina) dengan jarak sekitar 9 mil. Lihat: Ahmad al-Syaqāwī, al-Mar`ah fī al-Qashash al-Qur`ānī, vol. 2 (Cairo: Dār al-Salām li al-Thibā’ah, 2001), hlm. 692.

[3] al-Nasā`ī, Sunan al Nasā`ī, vol. 1 (Cairo: al-Maktabah al-Tijāririyyah, 1986), hlm. 221.

[4] Lihat: Ibn Katsīr, Tafsīr Ibn Katsīr, vol. 5 (Riyadh: Dār al-Thaibah, 1999), hlm. 223.

[5] Ahmad al-Syaqāwī, al-Mar`ah fī al-Qashash al-Qur`ānī, vol. 2…, hlm. 696.

[6] Lihat: al-Thabarī, Jāmi’ al-Bayān fī Ta`wīl al-Qur`ān, vol. 16, Tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir (Beirut: Mu`assasah al-Risālah, 2000), hlm. 24.

[7] Lihat: Shalāh al-Khālidī, al-Qashash al-Qur`ānī: ‘Ardhu Waqāi’ wa Tahlīl Ahdāts, vol. 4 (Damaskus: Dār al-Qalam, 1998) hlm. 254.

[8] Muhammad Musthafa al-Zuhailī, Syir’atullāh li al-Anbiyā fī al-Qur`ān al-Karīm wa al-Sunnah (Damaskus: Dār Ibn Katsīr, 2018), hlm. 608.

[9] ‘Ali Muhammad al-Shallābi, ‘Īsā ibn Maryam: al-Haqīqah al-Kāmilah, (Damaskus: Dār Ibn Katsīr. 2019), hlm. 159.

[10] al-Rāghib al-Ashfahānī, Muhādharāt al-Udābā wa Muhāwarāt al-Syu’arā wa al-Bulaghā`, vol. 2 (Beirut: Syirkah Dār al-Arqām, 1420 H), hlm. 10.

[11] Lihat: Shalāh al-Khālidī, al-Qashash al-Qur`ānī: ‘Ardhu Waqā`i’ wa Tahlīl Ahdāts, vol. 4, hlm. 262.

[12] Lihat: Muhammad al-Amīn al-Syinqīthī, Adhwā` al-Bayān fī Īdhah al-Qur`ān bi al-Qur`ān, vol. 3 (Beirut: Dār al-Fikr, 1995), hlm. 401.

Tidak ada komentar

Tinggalkan komentar