Silaturahim Pimpinan PMDG, Pesan Kiai Hasan kepada PKU XVII: Hidup Penuh dengan Ujian, Pandai-Pandailah dalam Bersikap

7
Jan 2024
Kategori : Agenda PKU / Silaturahim
Penulis : admin
Dilihat :813x

Setelah kurang lebih enam bulan lamanya diajarkan serta dibimbing untuk menyusuri jelajah intelektual seputar dunia pemikiran, sembari menapaki jalan riyādhah spiritual dalam naungan atmosfer kehidupan pesantren, para peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) Angkatan XVII UNIDA Gontor akhirnya tiba di penghujung agenda. Berbagai kegiatan telah mereka ikuti; mulai dari perkuliahan, kajian-kajian, penulisan tugas akhir, hingga puncaknya yaitu safari Workshop Pemikiran dan Peradaban Islam yang terlaksana baik secara offline di sejumlah kota dan kabupaten di pulau Jawa maupun online yang melibatkan peserta lintas wilayah di Indonesia hingga mancanegara. Tentunya, sebelum bertolak kembali ke daerahnya masing-masing, para peserta tidak lupa untuk bersilaturahim dengan tuan rumah yang telah mengizinkan mereka untuk menimba ilmu serta mengenyam pendidikan di tanah keramat Gontor, yaitu Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) yang sekaligus berposisi sebagai Presiden UNIDA Gontor.

Acara silaturahim PKU XVII UNIDA Gontor dengan Pimpinan PMDG berlangsung pada hari Sabtu, 18 November 2023 bertempat di Aula Pertemuan Gedung Aligarh PMDG. Pagi itu, cuaca yang cerah dan hangat menemani derap langkah para santri yang sedang berhamburan menuju ke kelas untuk menerima pelajaran dari guru-guru mereka. K.H. Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan PMDG pun hadir di ruang pertemuan pada pukul 07.00 WIB, dan acara silaturahim diawali dengan perkenalan singkat para peserta PKU yang keseluruhannya berjumlah 51 orang. Beliau tampak begitu antusias ketika menanyai latar belakang para peserta yang berasal dari daerah serta bidang keilmuan yang sangat beragam.

Sebagai kalimat pembuka dalam pidato nasehatnya, Kiai Hasan menegaskan bahwa apa yang akan beliau sampaikan tidak spesifik membincangkan seputar ghazwu al-fikr ataupun yang berkenaan dengan dunia akademik, akan tetapi beliau berbicara tentang kehidupan. Setidaknya pidato beliau yang berdurasi hampir dua jam tersebut dapat dirangkum ke dalam beberapa poin utama. Pertama, bahwa ilmu yang tinggi tidak boleh lantas menjadikan kita sombong lagi tinggi hati, sehingga cenderung meremehkan dan memandang rendah orang lain. “Jangan mengira ilmumu layak untuk kamu takabburi, sehingga kamu menjadi takabur. Bisa menjerumuskan ke dalam pojok-pojok kepicikan,” jelas Kiai Hasan. Sebagai seorang muslim, kita tidak boleh bergantung kepada apa yang kita miliki, baik itu harta ataupun ilmu, karena semua itu hanyalah titipan. Yang benar-benar layak untuk kita andalkan hanyalah amalan kita, apa yang telah kita perbuat dengan berbagai titipan tersebut, sebagaimana disebutkan dalam hadis yang beliau kutip dari riwayat Imām Tirmidzī tentang empat perkara yang harus dipertanggungjawabkan oleh seorang hamba di hari kiamat kelak.

Kedua, beliau menerangkan bahwasanya ilmu yang dimiliki oleh seseorang tidak hanya berarti pemberian dari Allāh ‘azza wa jalla saja, namun sekaligus menjadi cobaan baginya. Maziyyatuka ‘aibuka; apa yang menjadi kelebihanmu, pada saat yang sama juga menjadi aib serta kekuranganmu. Bahwasanya anugerah (al-minḥah) akan selalu diikuti dengan ujian (al-miḥnah). Karena itu, beliau dengan lantang memberikan rambu-rambu peringatan kepada seluruh peserta agar selalu waspada terhadap setan-setan yang selalu berupaya memanfaatkan keulamaan orang-orang berilmu untuk menjerumuskannya ke dalam kesesatan melalui rasa iri, dengki, hasad, ataupun takabbur. Bahkan ujian tersebut semakin rumit ketika memasuki zaman modern ini; zaman yang sha’uba i’rābuhu (sulit dijelaskan), the era of kibulization, di mana terjadi berbagai upaya-upaya peng-ḥimar-an ulama serta pemurtadan umat yang dilancarkan oleh kaum lan tardhā. Sebagai hamba yang diberi amanah ilmu, seorang ulama harus cerdas dalam mengambil sikap terhadap perkara apapun, sehingga tidak menjadi pragmatis dan mudah terseret-seret oleh berbagai golongan orang-orang berkepentingan yang bisa ‘membeli’ ulama. Ilmu yang telah diberikan oleh Allāh adalah nikmat serta anugerah yang begitu mahal, karenanya beliau sangatlah gigih mengingatkan para peserta supaya pandai-pandai memanfaatkannya, agar jangan sampai pemberian yang seharusnya menjadi rahmat itu justru menjelma menjadi azab.

Ketiga, setelah banyak mengomentari serta memberikan gambaran umum tentang masyarakat dunia saat ini, beliau menasehati para peserta agar tidak hanya mencari pergaulan dengan orang-orang baik, tapi justru saatnya untuk menciptakan, membentuk, dan membina kawan-kawan sepergaulan untuk menjadi baik. Terlebih lagi, dengan kelebihan ilmu yang dimiliki, hal tersebut tidak lagi menjadi anjuran namun sudah menjadi tanggung jawab. “Perbanyaklah (membina) orang baik, sehingga menjadi miliu yang baik, sehingga saling mengingatkan dalam kebaikan,” ungkap beliau. Untuk melengkapi uraiannya, beliau bahkan mengutip salah satu ungkapan ulama salaf Imām al-Ḥasan al-Bashri:

اِسْتَكْثِرُوْا مِنَ الإِخْوَانِ؛ فَإِنَّ لِكُلِّ مُؤْمِنٍ شَفَاعَةً يَوْمَ القِيَامَةِ، فَلَعَلَّكَ تَدْخُلُ فِي شَفَاعَةِ أَخِيْكَ.

“Perbanyaklah berkawan, karena setiap mu`min itu memiliki syafa’at di hari kiamat, boleh jadi kamu akan masuk ke dalam syafa’at (salah satu) kawanmu.”

Terakhir, sebagai penutup dari nasehat dan bincang hangat penuh ungkapan sayang dari Kiai Hasan, beliau berpesan kepada seluruh peserta agar senantiasa mempertahankan jati dirinya sebagai muslim yang beriman serta istiqāmah dalam menyatakan kebenaran. Tidak perlu takut kalah; karena kalah bukan berarti salah, dan menang belum tentu benar. “Tegakkan terus kebenaran, walau sekecil apapun, karena tujuan kita adalah menyatakan kebenaran, bukan memaksakan kemenangan,” tegas beliau. Zaman sekarang adalah zaman persaingan antara ḥaqq dan bāthil; siapapun yang memenuhi syarat maka ia akan menang, tidak peduli benar ataupun salah. Maka bila orang-orang benar tidak berani menyatakan kebenaran, ia akan kalah dengan sendirinya dan secara tidak langsung merelakan panggung kemenangan kepada kebatilan. Kebenaran harus terus dinyatakan, meskipun sulit dan belum tentu akan menang. Namun demikian, tidak boleh takut menjadi orang benar; harus pandai dalam menyikapi situasi yang terjadi, dan tetap cerdas dengan mengandalkan bashīrah atau pandangan mata hati, sehingga tidak mudah terkecoh lagi terlena oleh kenikmatan sesaat. Jangan sampai kita menggadai identitas Islam kita demi kemenangan di dunia, sehingga lupa dengan konsekuensi yang akan kita hadapi di akhirat karena tidak ada sebab menuju surga melalui jalur kafir. Terutama sebagai orang yang diberi kelebihan ilmu, jangan sampai ilmu itu berhenti pada diri sendiri, atau hanya disimpan di rak-rak perpustakaan, melainkan harus terus ditingkatkan dan ditularkan kepada orang-orang di sekitar kita. “(Ilmu yang kamu dapat) supaya hidup di dalam dirimu. Jadilah orang tingkat tinggi; keimanannya, keilmuannya, serta ‘amaliyyah-nya.” [HZM]

Tidak ada komentar

Tinggalkan komentar