Membersihkan Hati, Meningkatkan Taqwa, Menyambut Bulan Suci Ramadhān
Husain Zahrul Muhsinin
Ramadhān adalah bulan suci penuh berkah yang hanya dijumpai oleh umat Islam sekali dalam setiap tahun. Saat ia tiba, Ramadhān menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas iman serta frekuensi amal shalih, sebab pintu rahmat dan maghfirah (ampunan) Allāh terbuka seluas-luasnya, sedang para setan dibelenggu sehingga manusia mampu beribadah dengan lebih khusyuk di hadapan-Nya. Kesempatan yang hanya berlangsung selama satu bulan penuh inipun tidak ingin disia-siakan oleh umat Islam, terutama bagi mereka yang mengetahui betapa besar fadhīlah serta keutamaan yang dimiliki bulan Ramadhān.
Sebagai wujud kesungguhan untuk menyambut bulan Ramadhān, kita selaku orang-orang yang beriman perlu melakukan persiapan lahir dan batin. Persiapan yang dimaksud di sini tidak hanya yang bersifat fisik ataupun materi; seperti kesehatan jasmani, persediaan bahan pokok selama berpuasa, ataupun sejenisnya. Lebih dari itu, persiapan yang tidak kalah penting untuk diantisipasi sejak awal adalah persiapan batin. Sebelum memasuki bulan yang mulia ini, seorang muslim sejati perlu memiliki kesiapan mental yang tangguh, niat yang ikhlas untuk beribadah demi menggapai ridha-Nya, serta tekad yang kuat untuk memperbaiki diri. Persiapan tersebut menjadi suatu keharusan sebab berpuasa tidak hanya soal menahan rasa haus dan lapar saja, tetapi juga menahan diri dari segala bentuk perbuatan tidak bermanfaat apalagi tercela; seperti mengucapkan kata-kata kotor, melepas kendali emosi, hingga menuruti kehendak hawa nafsu.
Untuk mewujudkan persiapan batin yang maksimal, perlu ditopang dengan hati yang bersih. Sebab hati, meskipun fisiknya hanya berupa segumpal daging di dalam tubuh, namun esensinya sangat menentukan bagaimana keadaan batin seseorang secara keseluruhan. Hal ini sebagaimana disebutkan di dalam hadis Rasulullāh shallaLlāhu ‘alaihi wa sallam:
أَلَا وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ القَلْبُ (متفق عليه)
“Sesungguhnya, di dalam badan ini terdapat sekerat daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh badan, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh badan. Sesungguhnya, ia adalah hati.” (H.R. al-Bukhāri dan Muslim, dalam Riyādh al-Shāliḥin hadis no. 587)
Dengan berbekal hati yang bersih, seorang muslim akan mampu menyambut ibadah puasa selama sebulan penuh dengan persiapan yang matang. Batinnya akan mampu bersabar menahan diri dari segala amalan yang merusak pahala puasa, jiwanya akan termotivasi untuk semakin meningkatkan ketaatan, bahkan lisannya akan sibuk dengan ucapan dzikir kepada Allāh ketimbang membicarakan hal-hal yang tidak manfaat. Semua amalan tersebut akan menuntunnya kepada hasil yang maksimal, berupa buah yang ranum lagi manis untuk dipetik setelah proses berpuasa selama satu bulan penuh, yakni ketaqwaan. Taqwa merupakan salah satu tujuan utama dari disyariatkannya puasa, sebagaimana yang disebutkan di dalam al-Qur’ān Surah al-Baqarah Ayat 183 yang berbunyi:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (البقرة: ١٨٣)
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (Q.S. al-Baqarah: 183)
Secara bahasa, taqwa memiliki arti ‘mencegah’. Sedangkan dalam syariat dapat dipahami secara sederhana dengan makna “beribadah dengan melakukan ketaatan dan amal shalih, serta menjauhkan dan mencegah diri dari adzab ataupun maksiat, yang berasal dari rasa takut sekaligus cinta kepada Allāh subḥānahu wa ta’āla”. Taqwa merupakan derajat tertinggi dari ketaatan seorang hamba, di mana ia tidak lagi memperbanyak amalan-amalan kebajikan karena mengejar pahala semata atau bahkan mengharap balasan surga, namun karena rasa cintanya kepada Sang Pencipta, harapnya terhadap keridhaan-Nya, serta takutnya terhadap murka-Nya. Ketaatan pada tingkatan ini tidak akan mudah tergoyahkan oleh kesenangan dunia ataupun kenikmatan sesaat saja, sebab ia telah menemukan kenikmatan yang jauh lebih berharga daripada nikmat lahiriyah, yakni kesejahteraan batin yang akan melahirkan ketenangan serta kebahagiaan yang tidak hanya berlangsung di dunia, namun juga di akhirat.
Menyambut bulan suci Ramadhān tahun ini, mari bersama-sama menuliskan catatan perbuatan kita di atas kertas putih dengan tinta emas yang berkilau. Mari perbanyak beramal shalih, sebab sekecil apapun yang kita perbuat kelak akan menjadi saksi yang akan menentukan nasib kita di akhirat nanti; baik itu menuju surga ataupun neraka. Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan hamba-hamba Allāh yang mampu menjalankan ibadah puasa dengan maksimal, mencapai derajat taqwa, dan menggapai ridha-Nya sehingga mampu berbahagia sejak di dunia hingga di kehidupan abadi di akhirat nanti. Āmīn Yā Mujīb al-Sāilīn.
Daftar Pustaka
Imām ‘Abdullāh Sirāj al-Dīn al-Ḥusaini, al-Shiyām: Ādābuhu – Mathālibuhu – Fawāiduhu – Fadhāiluhu, Maktabah Dār al-Falāḥ, Aleppo.
Khālid Abū Shālih, Lathāif wa Fawāid Ramadhānāniyyah, Dār al-Wathan li al-Nasyr.
‘Umar Sulaimān ‘Abdullāh al-Asyqar, al-Taqwa: Ta’rīfuhā wa Fadhluhā wa Maḥdzūrātuhā wa Qashashun min Aḥwālihā, Dār al-Nafāis, Oman.
Imām Yaḥya Bin Syaraf al-Nawawi, Riyādh al-Shāliḥīn min Kalāmi Sayyid al-Mursalīn, Dār Ibn Katsīr, Beirut.

Tinggalkan komentar