Kemenangan Monumental Umat Islam di Bulan Ramadhān
Oleh
Fasya Tharra Annada, S.Ag.
Ramadhān adalah bulan yang diliputi banyak
keistimewaan dan kemuliaan. Umat Islam di seluruh dunia bersuka cita dengan
datangnya bulan ini. Kedatangannya disambut dengan kegembiraan dan berbagai
persiapan. Hari-harinya dilalui dengan berlomba-lomba melakukan kebaikan dan
ketaatan dalam rangka memanfaatkan keberkahan Ramadhān.
Jika
kita menelusuri sejarah peradaban Islam, maka kita jumpai di antara keberkahan
bulan Ramadhān adalah
banyaknya kemenangan gemilang yang diraih kaum Muslimin. Ternyata selain
dikenal dengan bulan puasa (Syahru al-Shiyām), Ramadan juga disebut Dr.
Raghib Al-Sirjani (l. 1964 M) sebagai bulan kemenangan (Syahru al-Intishārāt).
Dalam bulan
ini, Allāh berikan
banyak sekali kemenangan monumental kepada kaum Muslimin. Mulai dari Badar
al-Kubra (2 H) yang melegenda, Fathu Makkah (8 H) yang istimewa,
Pembebasan Andalusia (92 H), Perang Hittin (584 H), Kemenangan di Ain Jalut (685
H), hingga kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang juga
diproklamasikan pada bulan Ramadhān (1364
H).
Pada
bulan Ramadhān tahun
2 H, turun syariat kewajiban berpuasa pertama kali dan terjadi pula peristiwa Perang
Badar. Waktu itu, pasukan Muslimin menghadapi kekuatan kaum Musyrikin Quraisy
yang jumlahnya jauh lebih besar. Pasukan Muslimin berjumlah 313 orang
menghadapi musuh sebanyak kurang lebih 1.300 orang. Akan tetapi, Allāh memberikan kemenangan kepada kaum Muslimin.
Kemenangan ini sebagai bukti bahwa Allāh mampu
memberikan kemenangan bagi siapa yang Dia kehendaki walau bagaimanapun
rintangan yang tampak menghadang di pelupuk mata manusia.
Lalu 6
tahun setelah itu, terjadi peristiwa Fathu Makkah yang luar biasa. Sekitar
10.000 orang kaum Muslimin memasuki kota Makkah dengan damai tanpa kekerasan dan
membersihkan Ka’bah yang suci dari segala berhala yang mengelilinginya.
Setelah
itu, banyak juga kemenangan-kemenangan yang diraih oleh para sahabat dan generasi
selanjutnya. Salah satunya seperti yang disebutkan di atas, yakni Pembebasan
Andalusia (sekarang Spanyol dan sebagian Portugal) yang dipimpin oleh Thāriq bin Ziyād (w. 101 H). Hal ini menjadi awal tersiarnya
cahaya Islam yang menerangi berbagai penjuru benua Eropa.
Apabila
di Andalusia ada Thāriq bin
Ziyād, maka di belahan bumi lain, tepatnya di Palestina, ada Shalāhuddin al-Ayyūbi (w. 589 H) yang menghadapi Tentara Salib
untuk membebaskan Bait al-Maqdis. Dalam
pertempuran Hittin, Shalāhuddin
dan pasukannya berhasil meraih kemenangan yang membuka jalan bagi mereka untuk mengembalikan
Yerusalem ke tangan kaum Muslimin.
Palestina
juga menjadi saksi ketika pasukan Muslimin yang dipimpin oleh Saifuddin Qutuz (w.
658 H) dan Zahir Baybars (w. 676) menghadapi pasukan Hulagu Khan (w. 663 H)
dari Mongol yang telah merobohkan kemegahan Dinasti Abbasiyah di Baghdad. Dalam
pertempuran sengit di Ain Jalut, Palestina, pasukan Muslimin berjaya
mengalahkan pasukan Mongol yang ketika itu dipercayai sebagai tentara yang
tidak dapat dikalahkan.
Kemudian
di tanah air, peristiwa besar bersejarah yaitu Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
juga terjadi pada bulan Ramadhān yang
mulia. Setelah berabad-abad dijajah, akhirnya bangsa Indonesia dapat menghirup
udara manis kemerdekaan pada 9 Ramadhān 1364 H
atau 17 Agustus 1945 M.
Kemenangan-kemenangan
tersebut tentu saja tidak terlepas dari kegigihan perjuangan kaum Muslimin dan
penghayatan terhadap ajaran dīn Islam.
Jika kita renungi, para generasi terdahulu mencontohkan bahwa bulan Ramadan yang
merupakan waktu umat Islam untuk berpuasa, tidak lantas menjadi alasan untuk
tidak produktif dan bersantai ria. Kemenangan-kemenangan monumental itu juga
mengingatkan bahwa seorang Muslim mestilah optimis, yakin dan semangat untuk
memperoleh kemenangan, sekurang-kurangnya berjuang untuk memenangkan keistimewaan
dan keberkahan Ramadhān.
Referensi:
Al-Mubarakfuri, Syaikh Shafiyurrahman. Ar-Rahīq Al-Makhtūm. Terj. Hanif Yahya, et al. Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup
Rasul yang Agung Muhammad dari Kelahiran hingga Detik-Detik Terakhir.
Darussalam. 2001.
Ansary, Tamim. Destiny Disrupted: A History
of the World through Islamic Eyes. Terj. Yuliani Liputo. Dari Puncak
Baghdad: Sejarah Dunia Versi Islam. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta. 2018.
Al-Sirjani, Raghib. “Ramadan Syahr
al-Intisharat”, https://islamstory.com/ar/artical/
27838/%D8%B1%D9%85%D8%B6%D8%A7%D9%86-%D8%B4%D9%87%D8%B1%D8%A7%D9%84%D8%A7%D9%86%D8%AA%D8%B5%D8%A7%D8%B1%D8%A7%D8%AA,
dikases pada 30 Maret 2024.
@gen.saladdin “Today in History: 9 Ramadan 1364
H, Proklamasi Kemerdekaan Negara Indonesia!” dalam https://www.instagram.com/p/C4vQwwFLpjI/?utm_source=
ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==, diakses pada 30 Maret
2024.

Tinggalkan komentar