Belajar dari Peristiwa Isrā` Mi’rāj:

26
Jan 2025
Penulis : admin
Dilihat :343x

Belajar dari Peristiwa Isrā` Mi’rāj:

Seputar Hikmah Perjalanan Malam yang Mulia

Oleh: Ahmad Syarif Mas’ud, Lc.

Berbicara tentang perjalanan dakwah tidak akan pernah selesai. Amanah yang Allāh berikan kepada Nabi Muhammad shallaLlāhu ‘alaihi wa sallam sebagai juru dakwah meneguhkan tekad beliau menyebarkan agama Islam, meskipun banyak tantangan yang mesti dilalui. Peristiwa Isrā` Mi’rāj menjadi salah satu momen besar mengenai perjalanan perjumpaan hamba dengan Rabb-nya dalam waktu satu malam, setelah sebelumnya menghadapi ancaman dan intimidasi dari kaum kafir Quraisy ketika menyebarkan dakwah. Selain itu, Rasūlullāh shallaLlāhu ‘alaihi wa sallam juga mengalami apa yang disebut dengan ‘tahun kesedihan’, ketika orang-orang terdekat beliau yakni paman terkasihnya Abū Thālib dan istri tercintanya Sayyidah Khadījah pergi mendahului beliau menemui Rabb Sang Pencipta.[1]

Dalam kitab al-Isrā` wa al-Mi’rāj dijelaskan bahwa untuk mengemban tugasnya berdakwah rasul perlu perlindungan dari dua hal, yaitu perlindungan eksternal dari ancaman kaum Quraisy dan perlindungan internal berupa ketenangan dalam rumah. Abū Thālib dan Sayyidah Khadījah telah mengambil peran dalam kedua sisi perlindungan tersebut. Abū Thālib mengambil bagian penting melindungi Rasūlullāh  shallaLlāhu ‘alaihi wa sallam dari serangan orang-orang kafir, sedangkan Sayyidah Khadījah selalu menenangkan beliau dengan kelembutan dan perhatiannya.[2]

Peristiwa Isrā` Mi’rāj biasanya diperingati setiap tanggal 27 Rajab. Akan tetapi, ada perbedaan pendapat di antara para ulama terkait waktu terjadinya peristiwa agung ini. Di antaranya adalah Syaikh Abū Zahrah (w. 1974 M) yang menjelaskan ada sebuah riwayat yang mengatakan bahwa Isrā` terjadi pada malam 27 Rajab, sebagaimana yang dipilih al-Hāfizh Ibn Surūr al-Maqdisī (w. 600 H). Namun, riwayat tersebut tidak dapat dijadikan sandaran. Pendapat lain mengatakan Isrā` terjadi pada malam Jum’at di awal bulan Rajab, tetapi pendapat ini tidak diketahui pasti asal usulnya.[3] Adapun Syaikh Shafiyyurrahmān al-Mubārakfūrī (w. 2006 M) menyebutkan 6 pendapat tentang kapan terjadinya peristiwa Isrā`. Di antaranya yakni pendapat yang mengatakan bahwa Isrā` tejadi pada malam 27 bulan Rajab tahun ke-10 kenabian dan ini dipilih oleh al-‘Allāmah al-Manshūrfūrī (w. 1343 H). Tetapi pendapat ini dinilai lemah oleh Syaikh Shafiyurrahmān sendiri, sebab Sayyidah Khadījah wafat pada bulan Ramadhān tahun ke-10 kenabian. Kewafatan beliau terjadi sebelum datangnya wahyu yang mewajibkan shalat.[4] Meskipun terjadi perbedaan seperti yang telah disebutkan, kebanyakan kaum Muslimin memperingati Isrā` Mi’rāj pada tanggal 27 Rajab.

Peristiwa Isrā` Mi’rāj merupakan sebuah perjalanan istimewa yang terjadi pada malam hari. Secara bahasa, Isrā` artinya ‘berjalan di waktu malam’ dan Mi’rāj bermakna ‘naik ke atas’. Adapun secara istilah, Isrā` berarti perjalanan Nabi shallaLlāhu ‘alaihi wa sallam dari al-Masjid al-Harām di Makkah ke al-Masjid al-Aqshā di al-Quds, dan Mi’rāj berarti naiknya Nabi shallaLlāhu ‘alaihi wa sallam ke langit hingga alam lain yang terlepas dari wilayah malaikat, manusia dan jin.[5] Perjalanan yang istimewa ini telah diabadikan di dalam al-Qur`ān pada Surah al-Isrā` ayat 1 dan Surah al-Najm ayat 1-18.

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِير (الإسراء: 1)ُ

Syaikh Mutawallī al-Sya’rāwī (w. 1911 M) menjelaskan bahwa ayat ini sudah jelas berbicara tentang perjalanan Isrā` yang mana tidak ada jalan lain bagi seorang muslim selain mengimaninya. Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa kemampuan akal manusia sangat terbatas untuk mendalaminya sebab Isrā` Mi’rāj bukan ranah hukum aturan dunia manusia, melainkan ranah ilāhiyyah. Seorang mukmin meyakini bahwa peristiwa tersebut terjadi atas kuasa-Nya, sebagaimana pada permulaan ayat disebutkan “سُبْحَانَ” yang menyiratkan penekanan untuk tidak menyamakan aturan manusia dengan aturan Allāh.[6]

Kemudian, Syaikh Mutawallī al-Sya’rāwī menjelaskan mengapa pada bagian akhir ayat ditutup dengan “هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيْرُ”, padahal bisa saja ditutup dengan kalimat lain sepertiإِنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ” ? Beliau menerangkan disebutkannnya al-Samī’ dan al-Bashīr menunjukkan peristiwa Isrā` Mi’rāj sebagai jawaban atas doa dan persoalan berat yang diterima Rasūlullāh  shallaLlāhu ‘alaihi wa sallam ketika menghadapi celaan kaum kafir Quraisy dalam berdakwah serta Allāh hendak memperlihatkan kekuasaan-Nya.[7]

            Adapun dalam Surah al-Najm ayat 1 sampai 18 yang berkaitan dengan peristiwa Mi’rāj, Syaikh Abdul Halīm Mahmūd (w. 1978 M) menguraikan bahwa isi dari ayat ini adalah cara Allāh memuliakan rasūl-Nya, yakni Allāh menjauhkan Nabi dari kejelekan, mencegah Nabi dari perbuatan sesat, menjauhkan lisan Nabi dari hawa nafsu, menjauhkan hati Nabi dari berbohong, dan menjauhkan penglihatan Nabi dari penyimpangan serta hal-hal yang zhālim.[8]

            Beberapa hikmah yang bisa diambil dari peristiwa Isrā` Mi’rāj di antaranya adalah memperkokoh keyakinan bahwa Rasūlullāh  shallaLlāhu ‘alaihi wa sallam adalah benar-benar utusan Allāh. Peristiwa ini menegaskan bahwa nubuwwah itu bersifat khas, tidak sama dengan aturan manusia pada umumnya sehingga tidak untuk diukur secara empiris; perintah shalat wajib yang bermula dari 50 kali menjadi 5 kali dalam sehari adalah keringanan yang Allāh berikan untuk Rasūlullāh shallaLlāhu ‘alaihi wa sallam dan umatnya yang sudah sepatutnya dilaksanakan dengan baik; perginya Rasūlullāh  shallaLlāhu ‘alaihi wa sallam ke Bait al-Maqdis menjadi isyarat adanya hubungan erat antara Nabi Muhammad shallaLlāhu ‘alaihi wa sallam dan Nabi ‘Īsā ‘alaihissalām serta nabi-nabi lainnya, sekaligus menjadi pesan bagi umatnya untuk menjaga tanah suci tersebut;[9] dipilihnya susu oleh Rasūlullāh  shallaLlāhu ‘alaihi wa sallam ketika Malaikat Jibrīl memberikan pilihan antara susu dan khamr, menurut Syaikh Ramadhān al-Būthī (w. 2013 M), merupakan petunjuk bahwa Islam adalah agama yang sejalan dengan fithrah manusia dan hal itu adalah rahasia Islam dapat tersebar dengan cepat serta banyak orang yang menerimanya.[10] Dengan demikian, apa yang dialami Nabi shallaLlāhu ‘alaihi wa sallam pada peristiwa Isrā` Mi’rāj ini membawa pelajaran penting bagi kita untuk meneguhkan pendirian sebagai seorang muslim, mengimani dasar-dasar aqīdah yang kita yakini dengan sebenar-benar keimanan, serta menambah semangat memperbaiki diri untuk terus mendakwahkan nilai Islam.

 

Bibliografi

Al-Būthī, Muhammad Sa’īd Ramadhān. Fiqh al-Sīrah al-Nabawiyyah ma’a Mūjaz li Tārīkh al-Khilāfah al-Rāsyidah. Beirut: Dār al-Fikr, 1994.

Al-Mubārakfūrī, Shafiyyurrahmān. al-Rahīq al-Makhtūm (Sirah Nabawiyah: Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Saw.). Diterjemahkan oleh Hanif Yahya. Darussalam, 2001.

Al-Sya’rāwī, Muhammad Mutawallī. al-Isrā` wa al-Mi’rāj. Kairo: Maktabah al-Turāts al-Islāmī, 2003.

Mahmūd, Abdul Halīm. al-Isrā` wa al-Mi’rāj. Kairo: Dār al-Ma’ārif, 2004.

Zahrah, Muhammad Abū. Khātam al-Nabiyyīn ShallaLlāhu ’Alaihi wa Ālihi wa Sallam. Kairo: Dār al-Fikr al-‘Arabī, 2005.

 



[1] Shafiyyurrahmān al-Mubārakfūrī, al-Rahīq al-Makhtūm (Sirah Nabawiyah: Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Saw.), trans. oleh Hanif Yahya (Darussalam, 2001).

[2] Muhammad Mutawallī al-Sya’rāwī, al-Isrā` wa al-Mi’rāj (Kairo: Maktabah al-Turāts al-Islāmi, 2003), 12–13.

[3] Muhammad Abū Zahrah, Khātam al-Nabiyyīn ShallaLlāhu ’Alaihi wa Ālihi wa Sallam (Kairo: Dār al-Fikr al-‘Arabi, 2005), 413.

[4] Al-Mubārakfūrī, al-Rahīq al-Makhtūm (Sirah Nabawiyah: Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Saw.), 189.

[5] Muhammad Sa’īd Ramadhān al-Būthī, Fiqh al-Sīrah al-Nabawiyyah ma’a Mūjaz li Tārīkh al-Khilāfah al-Rāsyidah (Beirut: Dār al-Fikr, 1994), 93.

[6] Al-Sya’rāwī, al-Isrā` wa al-Mi’rāj, 19.

[7] Al-Sya’rāwī, 21.

[8] Abdul Halīm Mahmūd, al-Isrā’ wa al-Mi’rāj (Kairo: Dār al-Ma’ārif, 2004), 36.

[9] Al-Būthī, Fiqh al-Sīrah al-Nabawiyyah ma’a Mūjaz li Tārīkh al-Khilāfah al-Rāsyidah, 98.

[10] Al-Būthī, 99.

Tidak ada komentar

Tinggalkan komentar