Ḥaflah Ikhtitām Program Kaderisasi Ulama ke-17: Kisah Perjuangan, Tantangan, dan Harapan dari Rektor UNIDA Gontor

7
Jan 2024
Kategori : Agenda PKU / Ikhtitam
Penulis : admin
Dilihat :1198x

Berawal dari pembukaan Program Kaderisasi Ulama (PKU) ke-17 pada hari Rabu, 24 Mei 2023 lalu, para peserta PKU XVII UNIDA Gontor telah menjalani padatnya rentetan kegiatan yang berlangsung selama kurang lebihnya enam bulan. Mengakhiri seluruh kegiatan tersebut, Ḥaflah Ikhtitām PKU ke-17 digelar pada hari Rabu, 22 November 2023 yang bertempat di Hall CIOS UNIDA Gontor. Pada kesempatan tersebut, hadir beberapa tamu penting seperti Wakil Rektor III UNIDA Gontor sekaligus Direktur PKU UNIDA Gontor Al-Ustadz Dr. Khoirul Umam, M.Ec., Rektor UNIDA Gontor Prof. Dr. K.H. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil., Wakil Ketua MUI Provinsi Kalimantan Timur K.H. Bukhori Nur, Sekretaris Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Provinsi Kalimantan Timur Dr. Bahrani, M.Pd., serta sejumlah dosen pembimbing PKU UNIDA Gontor. Acara yang dimulai pada pukul 19.30 WIB itu berlangsung dengan khidmat dan penuh kesyukuran, mengingat PKU Angkatan XVII menghadapi banyak hal-hal tidak terduga namun alḥamduliLlāh tetap berjalan dengan lancar. Malam itu, sebelum para peserta kembali ke daerahnya masing-masing, Ustadz Hamid dalam pidatonya begitu banyak menitipkan pesan serta harapan kepada mereka, layaknya seorang ayah yang sedang berbesar hati ketika melepas kepergian anaknya.

Sebelum itu, Ustadz Umam selaku Direktur PKU terlebih dahulu melaporkan secara umum terkait penyelenggaraan program ini selama enam bulan terakhir di hadapan seluruh hadirin. Beliau juga menyebutkan bahwa PKU tahun ini termasuk orang-orang yang terpilih, karena dari jumlah pendaftar sebanyak 62 calon peserta reguler, lebih dari setengahnya harus dieliminasi secara selektif. Hal ini menandakan bahwa 30 peserta reguler yang diterima adalah orang-orang yang dianggap lulus secara kualifikasi serta disaring melalui berbagai macam pertimbangan. Ditambah dengan 21 peserta dari utusan MUI Provinsi Kalimantan Timur, total keseluruhan peserta PKU Angkatan XVII yang berjumlah 51 orang menjadi harapan besar untuk membawa perubahan yang lebih baik di masyarakat nantinya, sebagaimana yang diungkapkan Ustadz Umam. “Lulus dari PKU ini antum baru mendapatkan kunci. Maka setelah antum pulang nanti, gunakanlah kunci ini untuk membuka berbagai pintu-pintu (ilmu dan pengalaman) lainnya,” terang beliau. 

Usai pembacaan laporan umum, kesempatan berikutnya diberikan kepada Ustadz Hamid untuk menyampaikan pesan dan nasehatnya. Beliau mengawali kalimatnya dengan menjelaskan kronologi dicetuskannya PKU atas inisiatif dari MUI Pusat, sebagai tindak lanjut dari terbitnya fatwa MUI tahun 2005 tentang pengharaman pluralisme, liberalisme, dan sekularisme agama. Dari situ, panjang lebar beliau menceritakan bagaimana kisah perjuangan beliau memerangi paham-paham menyimpang yang begitu mendarah daging di dalam diri umat Islam di Indonesia kala itu. Namun, atas izin Allāh serta berkat kegigihan beliau dan timnya dalam melakukan dakwah intelektual, lambat laun paham yang keliru itu akhirnya mulai terkikis. Umat menjadi semakin sadar akan pentingnya berislam tidak hanya secara ritual, namun juga pada taraf intelektual. PKU yang terus berjalan sejak tahun 2008 inipun menjadi salah satu harapan lainnya untuk ikut menjawab tantangan tersebut, agar para alumninya dapat berperan sebagai agen-agen dakwah yang mampu mencerahkan cara berpikir umat dan menyelamatkannya dari berbagai bentuk kesesatan intelektual.

Di samping menceritakan kisah perjuangan beliau ketika awal mula memperjuangkan PKU, beliau juga membicarakan tantangan yang akan dihadapi oleh para peserta sepulangnya mereka ke masyarakat nanti. Kelak, yang akan dihadapi oleh para intelek dan cendekiawan muslim tidak hanya orang-orang yang belum memahami Islam, tapi justru orang-orang yang sudah memiliki ilmu namun keliru dalam memahami Islam. “Orang yang salah berpikir itu lebih berbahaya daripada (orang yang) salah berbuat. Orang yang perbuatannya salah karena dia bodoh itu tidak lebih berbahaya daripada orang pintar yang justru berbuat salah karena kepintarannya,” terang Ustadz Hamid. Sayangnya, di antara orang-orang pintar yang tergolong keliru secara pemikiran adalah mereka para cendekiawan muslim yang berada di perguruan tinggi Islam. Karena itu, beliau berpesan kepada para peserta yang secara resmi telah lulus dan menjadi alumni PKU agar selalu menyikapi dengan kritis narasi-narasi ataupun tulisan yang dipengaruhi oleh pemahaman menyimpang tersebut, sekalipun latar belakangnya berasal dari lulusan perguruan tinggi Islam.

Akhirnya, sebagai penutup dari pidato dan nasehat yang beliau sampaikan, Ustadz Hamid berpesan kepada seluruh peserta agar selalu berkomitmen dengan budaya ilmu yang telah mereka bangun, bina, serta mereka jadikan kebiasaan selama enam bulan menempa diri di PKU. Tidak berhenti membaca, tetap produktif menghasilkan tulisan, hingga membudayakan ilmu-ilmu yang telah mereka pelajari dengan memperbanyak diskusi. Beliau bahkan mengibaratkan kebutuhan otak untuk mendapatkan asupan intelektual layaknya perut yang selalu membutuhkan asupan gizi dan nutrisi setiap harinya; jika sekali saja tidak diisi, maka akan terasa lapar. Selain itu, beliau juga menyarankan agar nantinya angkatan ini dapat membentuk satu komunitas yang komitmen dengan keilmuan dan pemikiran, sehingga dapat menjadi basis yang kuat untuk melancarkan program-program dakwah kepada umat. “Peserta PKU adalah pilar-pilar (yang membangun peradaban). Jangan rendahkan diri anda; anda berharga, karena ada pikiran di dalam kepala anda. Pikiran inilah yang menjadi modal anda berdakwah di masyarakat,” pesan beliau.

Selepas kalimat yang sangat sarat akan pesan serta harapan besar dari Rektor UNIDA Gontor, acara dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan MUI Provinsi Kalimantan Timur. Ustadz Bukhori Nur sebagai yang bertugas mewakili menghaturkan ucapan terima kasih kepada UNIDA Gontor yang telah bersedia menerima utusan dari MUI Provinsi Kalimantan Timur, dan mempersiapkan mereka untuk menjadi kader-kader daerah yang akan mengisi titik-titik strategis peta dakwah di wilayah yang nantinya merupakan bakal ibu kota baru tersebut. Kemudian, sebelum acara formal diakhiri dengan sesi foto bersama, peserta PKU XVII secara simbolis menyerahkan barang wakaf yang dihibahkan kepada PKU UNIDA Gontor berupa kumpulan monograf karya Syed Muhammad Naquib al-Attās yang dibeli langsung dari Malaysia. Atas penyerahan wakaf tersebut, Ustadz Umam selaku Direktur PKU mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh peserta PKU XVII.

Setelah sesi perfotoan mengakhiri rentetan acara formal, agenda pada malam itu dilanjutkan dengan sesi acara non-formal. Sebagian dari peserta PKU yang mengikuti kursus pelatihan bahasa Arab bersama Pusdiklat Bahasa Arab UNIDA Gontor pada malam itu menyuguhkan penampilan terbaiknya dalam berbagai acara pentas seni; mulai dari ghinā` ‘arabiy, ghinā` jamā’iy, inthibā’āt, khithābah, serta qardhu syi’r. Uniknya, semua penampilan tersebut sarat dengan nuansa berbahasa Arab, sebab acara ini sekaligus menjadi evaluasi hasil belajar mereka selama di sela-sela program mengikuti pembelajaran bahasa Arab di UNIDA Gontor. Kemudian, setelah segenap rentetan acara non-formal berakhir, malam perpisahan itu ditutup dengan jabat tangan antara seluruh peserta, mentor, serta staf PKU dan staf CIOS, sebagai simbol kasih sayang serta saling memaafkan setelah pertemuan yang meskipun singkat namun menyisakan kesan mendalam yang akan selalu indah dikenang. Tidak lupa, selepas acara perpisahan itu, para peserta bergegas menuju Masjid Jami’ UNIDA Gontor untuk melaksanakan sujud syukur bersama atas selesainya masa belajar mereka di PKU UNIDA Gontor. [HZM]

Galeri Foto

Tidak ada komentar

Tinggalkan komentar