Memaknai Kembali al-Qur`ān dan Hakikatnya
Memaknai Kembali al-Qur`ān dan Hakikatnya
Oleh: Sri Rianti, S.Ag.
Menghadapi akhir zaman yang penuh fitnah dan ujian keimanan, umat Islam saat ini perlu menyadari pentingnya berpegang teguh kepada prinsip-prinsip Islam yang bersumber dari al-Qur`ān dan hadis Rasūlullāh shallaLlāhu ‘alaihi wa sallam. Salah satu upayanya dapat dilakukan dengan mendukung pergerakan dakwah yang menyeru kepada umat untuk memperbanyak interaksi dengan al-Qur`ān, baik itu dengan membaca ataupun menghafalnya.
Namun tidak cukup sampai di situ, tentu seruan ini masih menyisakan pertanyaan yang harus dijawab: mengapa kita perlu kembali kepada al-Qur`ān? Apa artinya al-Qur`ān bagi kita? Banyak dari kita saat dihadapkan dengan pertanyaan ini akan menjawab bahwa al-Qur`ān adalah firman Allāh subhānahu wa ta’āla; kitab suci umat Islam; mushaf yang harus dibaca; atau sebagian lain mengartikan bahwa yang disebut al-Qur`ān hanyalah sebagian surahnya saja; seperti surah Yāsīn saja, al-Wāqi’ah saja, atau al-Mulk saja, dan lain sebagainya. Jawabannya boleh jadi bervariasi, namun bila kita mau melihat dengan jeli maka dapat kita pahami bahwa hakikat jawaban dari pertanyaan yang tampak sederhana ini merupakan kunci penting untuk membukakan bagi kita pintu-pintu keajaiban yang dimiliki al-Qur`ān.
Tentu sah-sah saja kita bertanya, “apa pentingnya mengetahui definisi al-Qur`ān secara terperinci?”, “Apakah Allāh subhānahu wa ta’āla memerintahkan kita untuk itu?”, ataupun pertanyaan sejenis. Pada dasarnya, Allāh memang tidak pernah secara lugas menurunkan perintah kepada hamba-Nya untuk memahami apa yang dimaksud dengan al-Qur`ān ataupun menghafal definisinya. Perintah yang secara jelas tertulis hanyalah perintah untuk mengimaninya, mengimani pembawanya serta kebenaran isinya, lalu kemudian beramal dengannya. Namun, hal tersebut tidak berarti bahwa kita hanya perlu meyakini al-Qur`ān tanpa memahami hakikatnya yang sejati.
Bila terdapat pertanyaan yang menyoal seputar pengertian al-Qur`ān tidak pernah diwahyukan secara definitif, tentu pertanyaan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Sebab Allāh subhānahu wa ta’āla, Rasūlullāh shallaLlāhu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya tidak mendefinisikan al-Qur`ān secara ilmiah bukan karena mereka tidak mengetahui hal itu. Akan tetapi, justru karena Allāh menurunkan al-Qur`ān yang sangat sesuai dengan akal manusia, kemudian Rasūlullāh dan para sahabat yang sudah paham betul dengan hal tersebut sehingga mereka tidak perlu lagi mendefinisikan sesuatu yang sudah mereka kenal. Al-mu’arraf lā yu’arraf; sesuatu yang sudah lazim diketahui tidak butuh untuk didefinisikan.
Dengan demikian, menjadi penting bagi kaum muslimin sebagai umat penggiat al-Qur`ān untuk mengetahui dan memahami secara proporsional tentang hakikat al-Qur`ān. Barangkali salah satu penyebab utama mudahnya kita futur dan lelah dari kegiatan membaca ataupun menghafal al-Qur`ān adalah karena kita tidak pernah merenungi secara mendalam makna al-Qur`ān yang sedang kita hafalkan dan dampaknya bagi kehidupan. Seperti kata pepatah Arab “al-nās a’dāu mā jahilū”, manusia cenderung memusuhi sesuatu yang mereka tidak ketahui. Maka agar kita bisa serius berteman dengan sesuatu, kita harus mengenalnya terlebih dahulu.
Kenalilah al-Qur`ān agar kita bisa berteman dengannya, duduk berlama-lama bersamanya, hidup semati dengannya, dan istiqamah membersamainya. Mari kita pahami apa itu al-Qur`ān sehingga kita bisa meresapinya sejak semula hingga merenungi lautan keajaibannya lebih dalam. Terutama bagi mereka yang sedang berjuang menghafal al-Qur`ān, agar tidak sekadar merekam bacaannya saja, tapi benar-benar mengerti hakikat yang sedang dihafalkan dan menjaga kandungannya dalam wujud amalan sehari-hari.
Dalam pengantar Kitab Fī Zhilāl al-Qur`ān karya Sayyid Quthb (w. 1966 M) dikatakan,
“Hidup di bawah naungan al-Qur`ān adalah nikmat. Nikmat yang tidak diketahui kecuali bagi yang sudah merasakannya, nikmat yang membuat mulia waktu, memberkahinya, dan menyucikannya. Di bawah naungannya aku telah hidup dengan jiwa yang tenang, hati yang kokoh. Di bawah naungannya aku mampu hidup dan melihat kekuasaan Allāh di setiap kejadian dan urusan, aku hidup di bawah perlindungan dan pengawasannya. Di bawah naungannya aku paham bahwa Manhaj Ilāhiyyah diletakan untuk masa yang panjang, yang hanya diketahui akhirnya oleh Sang Pencipta Manusia dan Penurun al-Qur`ān ini. Dan di bawah naungannya aku tahu bahwa al-Qur`ān tidaklah membebani, juga tidak tergesa-gesa saat mewujudkan tujuan-tujuannya yang mulia. Maka ketenangan macam apa yang menjadikan gambaran ini, ketenangan macam mana yang mampu menenggelamkan hati sepenuhnya, kepercayaan, kekuatan, dan kebaikan mana yang mampu menandinginya.”
Maka mereka yang mengimani al-Qur`ān dan memahami hakikatnya akan sangat gembira. Sebab semakin mereka paham, semakin mereka yakin bahwa al-Qur`ān ini adalah kitab penerang, penyembuh, dan penawar untuk kemanusiaan di sepanjang zaman.
Rasūlullāh shallaLlāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di dalamnya ada berita tentang semua yang ada sebelum kalian hidup, dan kabar yang akan ada setelah kalian mati. la juga hakim bagi kalian, tegas tidak bercanda. Maka siapa yang meninggalkannya karena sombong, Allāh akan binasakan dia, yang mencari petunjuk dari selainnya akan Allāh sesatkan.”
Ialah pengingat yang bijak, ialah jalan yang lurus, ialah yang tidak akan bisa dibuat melenceng dengan hawa nafsu, ialah yang tidak bisa tercampur aduk dengan lidah manusia, yang tidak akan pernah membuat kenyang para ulama, yang tidak dibuat di atas perselisihan, yang tidak akan habis keajaibannya. la yang tidak bisa membuat jin berhenti saat mendengarnya dibacakan hingga mereka berkata, ”Sungguh kami mendengarkan al-Qur`ān yang menakjubkan, yang menunjukkan pada kebenaran.”
Siapa yang berkata dengannya maka ia benar, siapa yang beramal dengannya ia diganjar pahala, siapa yang berhukum dengannya ia telah adil, dan siapa yang berdakwah dengannya akan diberi petunjuk menuju al-shirāth al-mustaqīm. (H.R. al-Tirmidzi)
Imām al-Nawawi (w. 676 H) dalam karyanya yang masyhur, Al-Tibyan fī Adabi Hamalah al-Qur`ān menukil sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh Imām al-Dārimi dari ‘Abdullāh bin Mas’ūd radhiyallāhu ‘anhu, bahwa Nabi shallaLlāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacalah al-Qur`ān karena Allāh subhānahu wa ta’āla tidak akan mengazab hati yang sadar akan al-Qur`ān. Sungguh ia adalah hidangan dari Allāh subhānahu wa ta’āla. Maka siapa yang masuk ke dalamnya ia akan terjaga, dan barang siapa yang mencintainya, maka bergembiralah.”
Ali bin Abi Thālib radhiyallāhu ‘anhu juga berkata, “Wahai para penghafal al-Qur`ān, amalkanlah al-Qur`ān, karena sungguh yang disebut alim adalah yang mengamalkan apa yang ia ketahui, amalnya sesuai dengan ilmunya, dan akan datang banyak kaum yang menghafal al-Qur`ān, di mana al-Qur`ān yang mereka hafal tidak melebihi tenggorokan mereka.”
Inilah al-Qur`ān yang Allāh turunkan sebagai tali penolong, sebagai janji yang dikokohkan, sebagai naungan yang meneduhkan, sebagai jalan yang lurus. Di dalamnya terdapat mukjizat yang jelas, ada tanda-tanda kebesaran Allāh yang terang benderang, ada hujjah yang kuat, dan ada petunjuk yang berbicara. la mengangkat bendera-bendera kebenaran dan menghidupkan pusat-pusat kejujuran. Maka jika seorang mukmin sejati mampu memaknai hakikat al-Qur`ān sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, sungguh ia akan menjadi hamba yang semakin dekat dengan al-Qur`ān, sehingga menemukan ketenangan di kehidupan dunia dan menabung kebahagiaan untuk dituai saat menuju kehidupan abadi di alam akhirat nanti.
al-Qur`ān al-Karim
al-Nawawi, Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. al-Tibyān Fī Adabi Hamalah al-Qur`ān. Kairo: Dār al-Ittibā’.
Bashir, S. Kun Bil Quran Najman. 2021. Jakarta : PT Alex Media.
Ibrahim, A.S. Reconnect With Quran. 2021. Solo: AQWAM.

Tinggalkan komentar