Menemukan Ayat-Ayat Semesta dengan Sains Islam

23
Jun 2024
Kategori : Sains
Penulis : admin
Dilihat :872x
Picture edited by Ai

Menemukan Ayat-Ayat Semesta dengan Sains Islam

Oleh: Anisah Maryam, S.Tr.Ds.

 

Melihat keindahan alam di sekitar, hamparan sawah yang luas membentang, air yang terjun dari ketinggian, juga langit yang mengambang tanpa tiang, barangkali menimbulkan rasa penasaran dan keingintahuan tentang sesuatu di balik hal-hal tersebut. Pertanyaan pun muncul dalam akal dan pikiran manusia yang memantik usaha-usaha untuk memahaminya, salah satunya melalui jalan ilmu pengetahuan (sains). Dalam tradisi keilmuan di Barat, sains mempelajari fenomena alam melalui observasi, pengamatan dari indera yang kemudian diolah oleh akal untuk mencapai suatu kesimpulan yang rasional.

Suatu observasi dalam sains Barat memang hanya melibatkan indera, pengalaman (empiris) dan rasio sebagai acuan (Muttaqien, 2019). Karenanya, sesuatu yang dapat diindera dan terlihat nyata merupakan indikator sesuatu tersebut dapat dikatakan sah sebagai sains atau ilmu.

Namun nyatanya, indikator-indikator tersebut hanya dapat mengukur sesuatu yang bersifat materi. Pun juga akal sebagai pengolah informasi yang didapat dari indera tersebut juga menganalisis dari segi materi saja, yang menjadikannya sangat terbatas. Akibatnya, perbedaan kemampuan indera tiap individu memungkinkan terjadinya bias yang berimplikasi kepada banyaknya penyimpangan pemahaman. Karenanya, tidak cukup jika dalam memahami sesuatu hanya mengandalkan indera dan akal sebagaimana metode pemerolehan ilmu yang digunakan dalam paradigma sains Barat.

Konsep sains Barat dalam memahami alam semesta digiring pada pertanyaan ‘how (bagaimana), untuk dijawab dengan tahapan-tahapan atau mekanisme kerja. Adapun hakikat alam menurut René Descartes adalah benda yang tak hidup dan bersifat statis, yang kemudian kumpulan benda tersebut dirakit menjadi suatu mesin dengan pergerakan otomatis karena disandarkan pada hukum alam yang mutlak (Pradhana & Sutoyo, 2019). Alam semesta bekerja dengan siklus sebagaimana mesin, tanpa mempunyai tujuan filosofis khusus yang berkaitan dengan spiritualitas terlebih ketuhanan (Liliweri, 2022). Sehingga ketika memikirkan tentang alam semesta dalam paradigma sains Barat (salah satunya menurut Descartes), maka Tuhan sama sekali tidak memiliki andil di dalamnya; bahkan keberadaan Tuhan pun dinafikan.

Di sisi lain, terdapat konsep yang ditawarkan untuk memperoleh ilmu pengetahuan selain melalui pendekatan sains Barat, yaitu sains Islam. Sains Islam sendiri merupakan bagian dari filsafat Islam yang mengambil peran menjelaskan prinsip, metodologi serta falsafah kontemporer yang objektif untuk menjadi landasan pelaksanaan sains dalam peradaban Islam. Pertanyaan dasar filosofis yang dibawa oleh sains Islam tidak sebatas ‘how’ (bagaimana), namun juga ‘why’ (mengapa) dan ‘who’ (siapa). ‘Mengapa alam semesta diciptakan’, ‘siapa yang menciptakan segala rupa ini’, serta ‘bagaimana proses penciptaannya’, pertanyaan-pertanyaan tersebut akan mendapati jawabannya bukan hanya dari sumber indera dan akal, namun juga intuisi serta dituntun wahyu yang kebenarannya bersifat pasti (qath’i) (Pradana & Sutoyo, 2019). Pertanyaan filosofis mendasar ini menjadikan sains Islam mempunyai cakupan yang lebih luas dan mendalam tentang keberadaan alam semesta.

Kacamata yang dipakai sains Islam dalam memandang alam semesta adalah sebagai sesuatu yang bukan hanya entitas secara materi, namun juga non materi atau metafisik, yaitu makna di sebaliknya. Hal-hal yang bersifat materi dan non materi ini saling berkelindan satu sama lainnya. Istilah alam semesta sendiri merujuk pada kata al-ālam yang mempunyai arti ‘tanda’ (āyat) atau ‘petunjuk’ (‘alāmah) (Handrianto, 2019). Alam atau tanda ini berfungsi sebagai alat untuk menandai sesuatu yang bukan dirinya, yakni menandai pencipta-Nya, Allāh subhānahu wa ta’ala. Sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qur`ān Surah al-Thalāq ayat 12: “Allāh-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allāh berlaku kepadanya agar kamu mengetahui bahwasanya Allāh Maha Kuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya ilmu Allāh benar-benar meliputi segala sesuatu”. Langit dan bumi diciptakan dengan tujuan agar manusia mengetahui bahwa Allāh sebagai penciptanya. Segala sesuatu yang tampak, yaitu alam semesta ini mempunyai maksud agar manusia berfikir tentang sesuatu di baliknya, memahami sesuatu yang tersimpan di dalamnya, yaitu memikirkan kekuasaan Allāh ‘azza wa jalla.

Sebagai contoh misalnya, seorang profesor filsafat akan puas menjadi “muqallid“; hanya percaya kepada segala macam penjelasan pramugari, saat bepergian menggunakan pesawat terbang. Ia hanya percaya kepada orang yang mungkin sama sekali tidak pernah dikenalnya. Ia percaya kepada orang yang dikatakan sebagai pilot, meskipun ia sama sekali tidak kenal. Alhasil, si profesor menerima kebenaran ilmiah, bukan berdasarkan metode empirisme, tetapi menerima kebenaran ilmiah dari jalur pemberitaan. Inilah yang dalam konsep epistemologi Islam disebut sebagai jalur kebenaran ilmiah melalui khabar shādiq (true report).

Bagi seorang muslim, informasi yang didapat dari jalur khabar shādiq juga merupakan ilmu. Sebab, ia diperoleh dari sumber- sumber terpercaya, semisal al-Qur`ān dan hadis Nabi Muhammad shallaLlāhu ‘alaihi wa sallam. Ilmu yang diraih dari jalur khabar shādiq juga diterima secara universal. Misalnya dalam soal pengakuan anak terhadap kedua orang tuanya; sangat jarang ditemukan seorang anak yang meminta pembuktian secara rasional dan empiris berkenaan dengan status hubungannya dengan kedua orang tuanya. Meskipun tanpa Tes-DNA dan hanya berdasarkan cerita-cerita dari orang yang dipercayainya, maka si anak sudah mendapatkan ilmu tentang siapa orang tuanya yang sebenarnya. Ini adalah ilmu yang diraih dengan metode ilmiah. Karena itu, tidaklah tepat jika dalam perspektif Islam, suatu ilmu hanya dapat diraih dari metode empiris-rasional (Husaini, et. al., 2016).

Seseorang yang memiliki paradigma sains Islam sebagaimana dijelaskan di atas, maka setiap kali ia membuka mata lalu berusaha memahami sesuatu di alam semesta ini ia dapat mengembalikannya kepada Allāh. Refleksi pandangannya akan selaras dengan prinsip-prinsip keimanan, yang segala bentuk temuannya mengandung nilai kebenaran yang merujuk pada firman Allāh dalam al-Qur`ān dan penjelasan dari Rasul-Nya dalam hadis. Dengan cara seperti itu ia dapat menemukan Allāh di dalam kesehariannya, menemukan ayat-ayat-Nya terhampar di semesta raya, serta merasakan kuasa-Nya dalam setiap kerja inderanya.

 

Bibliografi

Husaini, Adian, et. al., Filsafat Ilmu: Perspektif Barat dan Islam, (Jakarta: Gema Insani, 2016).

Pradhana, Aldy, dan Sutoyo, Yongki, “Worldview Islam sebagai Basis Pengembangan Ilmu Fisika,” Tsaqafah: Jurnal Peradaban Islam 15, no. 2 (2019).

DOI: https://doi.org/10.21111/tsaqafah.v15i2.3387

Liliweri, Alo, Filsafat Ilmu, (Jakarta: KENCANA: 2022).

Handrianto, Budi, Islamisasi Sains, (Jakarta: INSISTS : 2019).

Muttaqien, Ghazi Abdullah, “Pandangan Syed Muhammad Naquib al-Attas tentang Islamisasi Ilmu,” Jaqfi: Jurnal Aqidah Dan Filsafat Islam 4, no. 2 (2019).

DOI: https://doi.org/10.15575/jaqfi.v4i2.9458

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan komentar